KAB. NAGAN RAYA, || Pohon besar di halaman SMPN 8 Darul Makmur yang sebelumnya menyentuh atap bangunan akhirnya ditebang setelah proyek revitalisasi sekolah senilai Rp1,6 miliar mendapat sorotan dari warga terkait potensi kerusakan bangunan dan lemahnya penerapan keselamatan kerja.
Sebelumnya, kondisi pohon yang menjuntai hingga mengenai atap bangunan menuai kekhawatiran masyarakat. Warga menilai pembiaran pohon tanpa pemangkasan dapat mengancam kualitas hasil revitalisasi yang saat ini sedang berlangsung.
Daun yang terus berguguran dan menumpuk di bagian atap dinilai berpotensi memicu kelembaban, mempercepat kerusakan material, hingga menyebabkan kebocoran pada bangunan sekolah yang sedang direnovasi menggunakan anggaran APBN tersebut.
Selain persoalan teknis bangunan, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah pekerja sebelumnya terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja di atas atap gedung. Padahal, penggunaan helm proyek dan sepatu safety merupakan standar wajib dalam pekerjaan konstruksi.
“Revitalisasi Rp1,6 miliar di SMPN 8 Darul Makmur ini terancam sia-sia kalau dari awal tidak dibersihkan dan K3 diabaikan. Nanti atapnya cepat rusak lagi,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya, Sabtu (16/5/2026).
Berdasarkan papan proyek, pekerjaan revitalisasi tersebut dilaksanakan oleh P2SP SMPN 8 Darul Makmur dengan masa kerja selama 150 hari kalender, terhitung sejak 8 April hingga 4 September 2026.
Pantauan wartawan sergap di lokasi pada Sabtu sore (16/5/2026), pohon yang sebelumnya menyentuh atap bangunan telah ditebang menggunakan mesin gergaji jenis sensow. Proses penebangan dilakukan untuk mencegah dampak kerusakan lebih lanjut terhadap bangunan sekolah.
Menanggapi sorotan masyarakat, Kepala Dinas Pendidikan Nagan Raya, Zulkifli, S.Pd., mengatakan pihaknya telah meminta agar pohon tersebut segera dipotong sejak menerima laporan dari lapangan.
“Dalam waktu secepatnya akan ditindaklanjuti kepala sekolah. Terkait APD, saya juga sudah sampaikan melalui kepala sekolah supaya tukang menggunakan APD lengkap saat bekerja,” ujarnya melalui pesan singkat WhatsApp, Sabtu (16/5/2026).
Di sisi lain, langkah penebangan pohon dinilai sebagai respons positif terhadap kritik masyarakat. Namun warga berharap pengawasan terhadap proyek tidak berhenti pada persoalan pohon dan APD semata, melainkan juga mencakup kualitas pekerjaan secara menyeluruh agar anggaran miliaran rupiah yang bersumber dari APBN tidak terbuang sia-sia.
Masyarakat meminta pihak sekolah, pelaksana proyek, dan Dinas Pendidikan lebih ketat mengawasi aspek teknis maupun standar K3 selama proses revitalisasi berlangsung sehingga hasil pembangunan dapat bertahan lama dan benar-benar bermanfaat bagi dunia pendidikan di Kabupaten Nagan Raya.
(H@r)






