BELU, || Sebanyak 30 paket kain tenun ikat berkualitas tinggi dari UMKM Cabang XVI Dim 1605 Belu dipersiapkan untuk tampil dalam ajang pameran nasional Persit Bisa 2 yang akan digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 7–9 Mei 2026. Produk unggulan ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus meningkatkan daya saing kerajinan lokal di tingkat nasional.
Seluruh persiapan, mulai dari produksi kain, penataan stan promosi, hingga pengemasan produk, kini telah memasuki tahap akhir. Tenun ikat yang dibawa mengusung motif khas Belu, yakni Robamiki, yang melambangkan kecantikan dan keanggunan perempuan.
Karya-karya tersebut merupakan hasil tangan terampil perajin lokal, salah satunya Ny. Cileberta, anggota Cabang XVI Dim 1605 Belu. Sentuhan tradisional yang dipadukan dengan kualitas bahan dan teknik pengerjaan menjadi nilai jual utama produk ini.
Tenun ikat Belu Atambua sendiri dikenal sebagai salah satu warisan budaya tekstil dari Nusa Tenggara Timur yang memiliki nilai historis dan simbolik tinggi. Tidak sekadar busana, kain ini juga mencerminkan identitas, status sosial, serta bagian dari tradisi adat masyarakat, mulai dari kelahiran hingga upacara kematian.
Keikutsertaan dalam ajang Persit Bisa 2 menjadi peluang strategis bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan eksposur produk di tingkat nasional. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka akses jaringan pemasaran yang lebih luas, termasuk potensi kolaborasi dengan pelaku industri kreatif lainnya.
Namun demikian, di balik potensi besar tersebut, pelaku tenun ikat masih menghadapi sejumlah tantangan. Persaingan dengan produk tekstil modern yang lebih murah dan produksi massal menjadi salah satu kendala utama dalam menembus pasar yang lebih luas.
Selain itu, keterbatasan dalam aspek branding, pemasaran digital, serta distribusi produk juga menjadi hambatan yang perlu diatasi agar tenun ikat mampu bersaing secara berkelanjutan. Tanpa strategi pemasaran yang kuat, produk berkualitas tinggi sekalipun berisiko kurang dikenal di pasar nasional.
Sejumlah pengamat ekonomi kreatif menilai, partisipasi dalam pameran seperti ini harus diikuti dengan penguatan kapasitas pelaku UMKM, baik dalam inovasi desain maupun strategi pemasaran. Hal ini penting agar produk tidak hanya diminati saat pameran, tetapi juga mampu bertahan di pasar jangka panjang.
Meski demikian, optimisme tetap terlihat dari para pelaku UMKM Belu. Dengan kualitas produk yang terjaga dan nilai budaya yang kuat, tenun ikat Belu diharapkan tidak hanya menjadi simbol warisan leluhur, tetapi juga sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Keikutsertaan dalam ajang nasional ini menjadi langkah awal untuk membawa tenun ikat Belu dari wilayah perbatasan menuju panggung yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu identitas budaya Indonesia.





