Pimpinan DPRD Kota Bandung Soroti Ancaman Sosial sebagai Tantangan Geopolitik Indonesia

SERGAP.CO.ID

KOTA BANDUNG, || Pimpinan DPRD Kota Bandung sekaligus Ketua Angkatan Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhanas RI ke-221 “Maung Papandayan”, Dr. H. Edwin Senjaya, S.E., M.M., menyoroti berbagai persoalan sosial yang dinilai menjadi tantangan serius bagi geopolitik Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pernyataan tersebut disampaikan Kang Edwin Senjaya saat menjadi narasumber kegiatan Pembinaan Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Kecamatan Rancasari, yang digelar di Puteri River Inn, Desa Citengah, Kabupaten Sumedang, Rabu (14/1/2026).

Kegiatan pembinaan tersebut dihadiri Camat Rancasari Shinta Parmawati, S.STP., M.Si., para lurah se-Kecamatan Rancasari, serta kader TPK, dengan fokus pada penguatan peran keluarga dalam menghadapi dinamika sosial dan kebangsaan.

Dalam paparannya, Kang Edwin Senjaya menjelaskan pentingnya implementasi nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai fondasi utama menghadapi tantangan geopolitik modern.

Ia mengungkapkan, sejumlah faktor yang saat ini menjadi tantangan geopolitik Indonesia antara lain perubahan iklim yang berdampak pada ketahanan pangan, perang, korupsi, narkoba, maraknya pinjaman online dan judi online ilegal, serta fenomena perilaku penyimpangan seksual LGBT.

Menurutnya, berbagai faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kepentingan global dan potensi intervensi pihak asing yang menginginkan ketidakstabilan nasional, mengingat besarnya potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia.

“Indonesia dianggap memiliki potensi yang sangat besar, sehingga tidak menutup kemungkinan ada pihak asing yang ingin memanfaatkannya melalui berbagai celah sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Kang Edwin menilai, pinjaman online ilegal dan judi online saat ini menjadi ancaman geopolitik yang sangat serius karena berkaitan langsung dengan penguasaan data, ekonomi digital, dan perilaku ekonomi masyarakat.

Ia menegaskan, penguasaan data dan arus modal lintas negara tidak hanya berdampak pada sistem keuangan, tetapi juga berpotensi menjadi alat kontrol sosial dan ekonomi terhadap suatu bangsa.

“Fenomena pinjol dan judol ilegal, terutama yang operatornya berada di luar negeri, menunjukkan bagaimana teknologi, data, dan modal dapat digunakan sebagai senjata baru dalam geopolitik modern untuk mengancam keamanan siber dan kedaulatan bangsa,” katanya.

Lebih lanjut, Kang Edwin menjelaskan bahwa judi online dan pinjaman online memiliki keterkaitan yang kuat, di mana tingginya praktik judi online mendorong masyarakat terjerat pinjaman online, diperparah oleh rendahnya literasi keuangan.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena LGBT sebagai tantangan geopolitik, khususnya terkait kesehatan masyarakat, potensi penyakit menular seksual, kesehatan mental, serta perbedaan nilai budaya dan hukum antarnegara yang dapat memengaruhi hubungan diplomatik.

Dalam konteks tersebut, Pemerintah Kota Bandung bersama Panitia Khusus 14 DPRD Kota Bandung saat ini tengah merumuskan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pencegahan dan Pengendalian Perilaku serta Penyimpangan Seksual, yang juga menjadi perhatian serius di Lemhanas RI.

Sebagai penutup, Kang Edwin Senjaya menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat, sebagai perekat persatuan bangsa dalam menghadapi berbagai ancaman geopolitik dan sosial.

(Dewi)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *