KOTA KUPANG, || Kasus HIV/AIDS di Kota Kupang terus mengalami peningkatan setiap tahun dan kini menjadi persoalan sosial yang serius. Rendahnya kesadaran bersama menjadikan penanganan HIV/AIDS masih jauh dari optimal.
Pengamat sosial dan pegiat pers Kota Kupang, Eben Domaking, menegaskan bahwa HIV/AIDS bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan persoalan sosial yang berkaitan dengan pola hidup, edukasi, dan kebijakan publik daerah.
Menurut Eben, ancaman terbesar bukan hanya pada angka kasus, tetapi pada rendahnya kesadaran masyarakat bahwa HIV/AIDS adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan tenaga kesehatan. “Stigma sosial membuat banyak ODHA enggan memeriksakan diri,” ungkapnya.
Ia menyoroti dampak sosial yang muncul, mulai dari diskriminasi, hilangnya pekerjaan, terputusnya relasi sosial, hingga rasa takut berlebihan yang berkembang di masyarakat. Tekanan sosial tersebut menyebabkan kualitas hidup ODHA semakin menurun.
Kelompok berisiko seperti remaja dan pekerja informal kini semakin rentan karena kurangnya edukasi yang terbuka dan ilmiah mengenai kesehatan reproduksi. Kondisi ini memperburuk penyebaran virus di Kota Kupang.
Eben menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dengan edukasi berkelanjutan di sekolah, komunitas, keluarga, serta kelompok pekerja dunia malam. “Kita perlu berani berbicara tanpa tabu tentang HIV/AIDS,” tegasnya.
Ia menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor pemerintah, lembaga kesehatan, dunia usaha, media, dan komunitas untuk memperluas layanan tes HIV gratis, meningkatkan kampanye anti-stigma, dan memastikan akses obat ARV tanpa diskriminasi.
“HIV/AIDS adalah masalah kita bersama. Kota Kupang hanya bisa keluar dari ancaman ini jika semua pihak bergerak. ODHA bukan ancaman, mereka membutuhkan dukungan untuk tetap produktif,” tutup Eben Domaking.
(Ms)






