PGRI NTT Rayakan HUT ke-80, Semuel Haning: Guru Adalah Segala-galanya!

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Sekitar ribuan guru dari Kota dan Kabupaten Kupang memadati Aula Auditorium Undana pada Kamis (27/11).

Bacaan Lainnya

Untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN). Suasana penuh semangat tampak sejak pagi, menandai kuatnya solidaritas para pendidik dari seluruh penjuru NTT.

Pada laporan pembukaan, Ketua Panitia HUT PGRI dan HGN, Ulfianty M.D. Toelle, S.Sos., M.Pd., menyampaikan bahwa peran guru tidak hanya besar dalam sejarah perjalanan bangsa, tetapi juga menjadi penentu mutu pendidikan nasional. “

Guru adalah fondasi yang membentuk masa depan. Tidak hanya mengajar, tetapi juga menyatukan kita dalam solidaritas dan kebersamaan,” ujarnya.

Ulfianty menekankan bahwa peringatan ini menjadi wujud penghargaan atas dedikasi guru dan tenaga kependidikan yang terus mengabdi, sekaligus mendorong peningkatan profesionalisme, kompetensi, dan inovasi pembelajaran.

“Ini momentum refleksi terhadap tantangan pendidikan dan merancang langkah strategis ke depan,” tambahnya.

Ketua PGRI Provinsi NTT, Dr. Semuel Haning, dalam sambutannya menegaskan bahwa selama 80 tahun berdiri, PGRI telah menjadi rumah perjuangan bagi guru dalam memperjuangkan kesejahteraan dan martabat profesi pendidikan.

“Peran guru dulu adalah tonggak PGRI. Guru adalah penggerak dan penentu arah organisasi,” tegas Haning.

Ia menambahkan bahwa PGRI akan terus menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan.

“Guru yang kuat akan melahirkan anak bangsa yang unggul. Untuk itu pemerintah harus lebih memperhatikan kesejahteraan guru honorer dan menjamin perlindungan hukum bagi guru,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Haning mengingatkan bahwa peringatan HUT PGRI bukan sekadar seremoni.

“Hari ini adalah momen ‘melawan lupa’. Di balik setiap pemimpin selalu ada seorang guru yang membimbing dan mengarahkan,” katanya lantang. Ia menyoroti masih banyak guru yang diperlakukan tidak adil, bahkan berujung pada persoalan hukum hanya karena ketidaksengajaan dalam menjalankan tugas.

“Kita tidak boleh diam. Negara harus hadir melindungi guru. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati gurunya, sementara bangsa yang lupa pada gurunya sedang menuju kerusakan moral,” tegas Haning sembari mengumumkan rencana peluncuran gerakan PGRI Melawan Lupa.

Ia juga memberikan semangat kepada para guru agar terus menjalankan tugas meski menghadapi berbagai tantangan. Ia mengutip kalimat inspiratif, “One child, one teacher, one book, one pen dapat mengubah dunia.”

Haning turut mengenang peristiwa jatuhnya korban guru di Papua pada 21 Maret 2025.

“Mereka yang mengorbankan diri layak dihargai sejajar dengan pahlawan bangsa,” ucapnya penuh haru.

Sebagai bentuk penghargaan, PGRI menyerahkan plakat dan tali kasih kepada para guru berprestasi, termasuk kepada pengawas terbaik juara 2 nasional, Arbentina Natara.

“PGRI bukan hanya papan nama, tetapi tempat memperjuangkan nasib guru,” ujar Haning lagi.

Di akhir dialog, ia kembali menegaskan filosofi dirinya tentang guru.

“Saya pada prinsipnya, guru adalah segala-galanya,” tuturnya.

Ia menutup sambutan dengan metafora yang menggetarkan hati.

“Guru itu seperti lilin. Biar tidak dianggap pahlawan, tetapi ia menciptakan pahlawan terbaik bangsa. Ibarat pelita, walau kecil ia tetap menyala lama- lebih lama dari api besar yang cepat padam,” pungkasnya.

Peringatan HUT PGRI ke-80 dan HGN ke-31 ini menjadi momentum reflektif sekaligus penguat komitmen para pendidik di Nusa Tenggara Timur untuk terus menerangi perjalanan pendidikan bangsa.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *