Menjaga Nadi Irigasi, Mengalirkan Harapan Petani

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Langit mendung tak menyurutkan langkah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Ir. Dody Hanggodo, ketika menyusuri tepian Bendungan Raknamo di Nusa Tenggara Timur, Jumat, 19 September 2025.

Bacaan Lainnya

Dalam kunjungan kerjanya itu, Dody tak sekadar melihat-lihat. Ia mendengarkan, berdialog, dan memastikan bahwa irigasi yang dibangun sejak 2021 benar-benar memberi manfaat bagi petani sekitar.

Di tengah semilir angin perbukitan, sang menteri menyampaikan komitmen pemerintah pusat untuk terus mendukung swasembada pangan. Salah satunya melalui perbaikan infrastruktur irigasi, peningkatan jaringan jalan tani, hingga pembangunan gorong-gorong.

“Kalau air lancar dan jalan baik, petani tak lagi terpaku pada musim. Mereka bisa menanam lebih dari dua kali setahun,” ujar Dody kepada media ini.

Dalam peninjauan itu, Dody juga menyinggung hasil panen yang mengalami peningkatan signifikan. Ia mengklaim, setelah irigasi Raknamo beroperasi, produktivitas padi naik dari sebelumnya 3-4 ton per hektare menjadi 6-7 ton. Capaian itu, menurutnya, adalah hasil kerja bersama antara pemerintah pusat, daerah, dan arahan dari Presiden Prabowo Subianto.

“Alhamdulillah, saya sudah berdiskusi langsung dengan para petani. Mereka sudah panen dua kali, dan hasilnya meningkat. Semua ini adalah buah dari arahan Bapak Presiden Prabowo, agar setiap kementerian memastikan kesiapan infrastruktur di daerah untuk mendukung pertanian,” lanjutnya.

Namun demikian, Dody tak menampik masih ada pekerjaan rumah. Beberapa saluran irigasi sekunder dan tersier di kawasan Raknamo belum optimal. Oleh karena itu, pemerintah berencana mengalokasikan anggaran perbaikannya pada tahun anggaran 2026. Ia berharap, petani bisa mulai menyiapkan pola tanam untuk musim ketiga.

“Irigasi sekunder dan tersier akan kami tangani secepatnya. Paling lambat tahun 2026 sudah masuk pengerjaan. Ini untuk memberi ruang bagi petani menanam tiga kali dalam setahun,” tegas Dody.

Dalam pertemuan dengan warga, muncul pula aspirasi mengenai pembangunan jalan tani dan akses desa. Hal ini, menurut Dody, akan segera dicek dan dimasukkan dalam program Inpres Daerah yang disusun langsung oleh Presiden Prabowo untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami akan catat semua kebutuhan masyarakat. Bukan hanya pertanian, tapi juga kebutuhan dasar lainnya. Semoga tahun 2026 progres pembangunan ini sudah mulai terlihat dan sesuai dengan harapan Pak Presiden,” ujarnya.

Kawasan sekitar Raknamo memang memiliki potensi besar untuk pertanian dan hortikultura. Namun cuaca ekstrem dan topografi wilayah membuat tantangan tersendiri. Dody mengungkapkan adanya fenomena banjir lahar dingin yang membawa batu-batu besar dari gunung pascahujan deras beberapa waktu lalu.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai dan juga Gubernur NTT untuk mengantisipasi bencana semacam ini. Jangan sampai infrastruktur yang sudah dibangun rusak karena alam,” katanya.

Salah satu warga Desa Naibonat, Yulius Talo, menyambut hangat kunjungan tersebut. Bagi Yulius, kehadiran menteri bukan sekadar seremoni. Ia melihatnya sebagai bentuk perhatian nyata terhadap nasib petani di pelosok negeri.

“Bagi kami, ini seperti mimpi. Tidak bisa memetik bintang, tapi bisa dikunjungi menteri. Kami senang karena suara kami akhirnya didengar,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Yulius dan warga lainnya mengungkapkan harapan besar agar kehadiran pemerintah bukan hanya saat pembangunan, tapi juga saat pemeliharaan. Ia menyebut, nilai ekonomi petani akan meningkat jika dukungan pemerintah konsisten dan menyeluruh.

“Kalau jalan bagus, air lancar, pupuk tersedia, dan harga gabah stabil, kami tidak butuh yang macam-macam. Kami hanya ingin hidup sejahtera,” ujarnya.

Program swasembada pangan yang digaungkan pemerintah pusat dianggap menjadi angin segar, terutama di wilayah-wilayah timur Indonesia yang selama ini minim perhatian. Dengan perbaikan infrastruktur dasar, petani diharapkan tak lagi menjadi penonton dalam kedaulatan pangan nasional.

Bendungan Raknamo yang dibangun sejak 2015 dan resmi beroperasi pada 2021 kini mulai menunjukkan manfaatnya. Namun seperti irigasi yang butuh aliran terus-menerus, perhatian pemerintah pun dituntut terus mengalir agar harapan petani tak pernah kering.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *