Dari Bogor ke NTT, ChildFund Dorong Percepatan Turunkan Stunting

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Setelah sukses menurunkan angka stunting di Kota Bogor, ChildFund International di Indonesia kini memperluas jangkauan program Percepatan Penurunan Stunting (ASRP) ke wilayah timur Indonesia. Kota Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya menjadi lokasi baru implementasi program yang mengedepankan pengasuhan responsif dan keterlibatan komunitas.

Bacaan Lainnya

ChildFund International di Indonesia mencatat penurunan angka stunting signifikan di Bogor, dari 35,9% menjadi 28,6%. Hasil ini disampaikan dalam kegiatan diseminasi capaian ASRP yang berlangsung di Kupang, Selasa (11/6). “Program ini berhasil karena kolaborasi erat dengan pemangku kepentingan lokal,” ujar Siti Aisah, Health Specialist ChildFund International.

ASRP diluncurkan pada 2022, menyusul kesuksesan program Bapak Ibu Anak Tangguh Kota Bogor (Batagor) yang berlangsung dari 2020 hingga 2021. Kedua program ini menargetkan intervensi gizi dan perilaku selama 1.000 hari pertama kehidupan anak, periode kritis dalam perkembangan fisik dan kognitif anak.

“ASRP bekerja di tingkat akar rumput. Kami melibatkan TPPS, Bapperida, Dinas Kesehatan, puskesmas, serta para kader masyarakat yang kami latih secara khusus,” lanjut Icha, sapaan akrab Siti Aisah. Program ini juga mendorong penguatan peran keluarga dalam pola asuh dan pemenuhan gizi anak.

Dampaknya tak hanya pada angka stunting. Gizi buruk berat di Kota Bogor turun drastis dari 9,4% menjadi 3,2%. Sementara angka gizi buruk umum juga berkurang dari 26,6% menjadi 12,7%. Anak dengan berat badan sangat kurang menurun dari 21,9% menjadi 14,3%.

“Ini bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu menjawab tantangan besar seperti stunting,” kata FE. Eriyanto, Pimpinan Yayasan Warga Upadaya, mitra utama ChildFund di wilayah Bogor. Menurutnya, kemitraan lokal menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

Keberhasilan di Bogor menjadi alasan kuat ChildFund menggagas replikasi program di NTT. Di Kupang dan Sumba Barat Daya, pelaksanaan ASRP dilakukan bersama Yayasan Masyarakat Cita Madani. Fokus awal adalah peningkatan pengetahuan orang tua tentang gizi dan pola asuh.

Dari total 311 orang tua dan pengasuh yang terlibat, 267 di antaranya (85,9%) mengalami peningkatan pemahaman terkait gizi anak. Seluruh kader masyarakat yang dilibatkan juga menunjukkan peningkatan kapasitas. Pemerintah daerah pun memberikan dukungan penuh terhadap program ini.

“Dukungan lintas sektor sangat krusial. Mulai dari keluarga, puskesmas, Bapperida, Dinas Kesehatan hingga DP3A. Semua bekerja bersama,” ujar Silvester Seno, pimpinan Yayasan Masyarakat Cita Madani. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan program hanya mungkin terjadi dengan kolaborasi nyata.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *