KUPANG, || Dihadapan para anggota senat, dosen, tenaga kependidikan, dan tamu kehormatan, David R. E. Selan, SE., MM tampil bukan sekadar sebagai kandidat rektor Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) 1945 NTT.
Dalam suasana yang penuh harapan dan , ia menegaskan bahwa pencalonannya bukan sekadar langkah pribadi, tetapi sebuah panggilan untuk membangun masa depan universitas secara kolektif dan strategis.
“Rektor bukan soal jabatan. Ini soal tanggung jawab sejarah, terutama terhadap anak-anak muda NTT,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan hadirin. Ia menyapa Ketua Umum PB PGRI Prof. Dr. Unifa Rosidi, Ketua BPH PB PGRI Dr. Samuel Haning, serta seluruh sivitas akademika dengan hormat, menandai dimulainya pidato visi-misinya yang sarat arah dan semangat perubahan.
Dalam visinya, David menggarisbawahi pentingnya menjadikan Universitas PGRI 1945 NTT sebagai pusat unggulan pendidikan tinggi yang tidak hanya berdaya saing secara nasional, tetapi juga kolaboratif secara global.
Ia menekankan pentingnya mutu, jejaring internasional, dan keberpihakan pada pembangunan daerah sebagai pilar utama transformasi universitas.
Fokus pertama adalah penguatan akademik. David menegaskan bahwa roh perguruan tinggi adalah dunia akademik itu sendiri. Ia berjanji akan menyempurnakan kurikulum berbasis Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM), mendorong prodi memiliki program unggulan tematik, serta menyediakan platform digital pembelajaran dan asesmen yang terintegrasi.
Komitmennya tak berhenti di dalam negeri. Ia menawarkan gagasan konkret dalam bidang kerja sama internasional, termasuk membangun MoU dengan kampus-kampus di Asia Tenggara, Jepang, Belanda, dan Australia.
“Kita harus berani membuka diri. Mahasiswa dan dosen perlu ruang lintas batas,” katanya. Ia juga menyiapkan universitas sebagai pusat uji bahasa internasional dan mengintegrasikan mata kuliah berstandar global ke dalam kurikulum.
Dalam aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM), David menilai stagnasi dosen sebagai ancaman utama kemajuan perguruan tinggi.
Ia menawarkan solusi dengan memberi fasilitasi studi lanjut S3 bagi dosen muda, insentif berbasis kinerja, pendirian pusat peningkatan kompetensi, dan program pendampingan publikasi ilmiah. “Dosen hebat, universitas kuat,” tegasnya.
David juga menyoroti pentingnya penjaminan mutu kampus. Ia menargetkan agar semua program studi terakreditasi minimal Baik Sekali, dengan arah strategis menuju status Unggul.
Ia menekankan reaktivasi tim gugus mutu dan keterlibatan alumni serta mitra kerja dalam sistem penjaminan mutu, sebagai bagian dari roadmap akreditasi institusi 2025–2030.
Menutup pidatonya, David tidak mengobral janji manis. Ia lebih memilih berbicara tentang komitmen dan kerja nyata.
“Saya tidak menawarkan mimpi kosong, tapi rencana yang terukur dan bisa dicapai bersama,” ucapnya. Ia mengajak seluruh sivitas untuk bersatu membangun universitas bukan demi nama rektor, tetapi demi generasi muda NTT dan kehormatan institusi.
Dengan salam hangat dan penuh hormat, ia menutup pidato: “Kita tidak bisa berjalan sendiri, tapi bersama kita bisa melompat lebih jauh.” Suasana auditorium pun berubah hangat, penuh harap, dan optimisme baru.
(Desy)






