JAKARTA, || Dalam kurun waktu sepuluh tahun, BPJS Kesehatan telah mengalami perkembangan yang luar biasa dan menjadi salah satu program kesehatan nasional yang mencapai standar Universal Health Coverage (UHC) tercepat di dunia.
Hal ini diungkapkan secara langsung oleh Direktur Utama BPJS Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti MSc., PhD yang hadir dalam acara Media Workshop dan Penganugerahan Lomba Karya Jurnalistik dan Jamkesnews Awards 2024.
Bahkan, bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang menerapkan standar UHC, seperti Korea Selatan dan Jepang, Indonesia menunjukkan progres yang sangat signifikan.
Penerapan UHC di Indonesia mencapai cakupan 275 juta orang dalam waktu hanya satu dekade, suatu pencapaian yang patut dibanggakan.
Capaian Indonesia dalam 10 Tahun
Sebagai gambaran, Korea Selatan memerlukan waktu 12 tahun untuk mencapai UHC, sementara Jerman memerlukan 127 tahun, dan Belgia membutuhkan 117 tahun.
Di Indonesia, hanya dalam waktu 10 tahun, program BPJS Kesehatan berhasil mencakup 98% dari total populasi, dengan sekitar 275 juta orang yang sudah menjadi peserta.
Pencapaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan cakupan kesehatan tercepat di dunia.
Wakil Presiden Indonesia bahkan menerima penghargaan internasional atas keberhasilan ini, mencerminkan betapa luar biasanya pencapaian BPJS Kesehatan dalam waktu yang relatif singkat.
Jumlah peserta yang sudah mencapai 275 juta orang mendekati total populasi Indonesia, yang saat ini berkisar di angka 280 juta.

Ini berarti hanya sekitar lima juta orang lagi yang belum tercover, suatu angka yang cukup kecil jika dibandingkan dengan total populasi.
Dampak Positif terhadap Lapangan Pekerjaan dan Kemiskinan
Program BPJS Kesehatan juga memberikan dampak besar terhadap penciptaan lapangan pekerjaan di sektor kesehatan.
Hingga saat ini, terdapat lebih dari 23.000 klinik dan lebih dari 3.100 rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Ini menciptakan banyak peluang kerja bagi tenaga medis dan pendukung di seluruh Indonesia.
Selain itu, program ini turut membantu mengurangi angka kemiskinan, dengan memberikan akses kesehatan yang lebih mudah dan terjangkau bagi masyarakat miskin.
Inovasi dalam Layanan Kesehatan
Indonesia tidak hanya berhenti pada pencapaian angka UHC, tetapi juga terus mengembangkan berbagai inovasi dalam layanan kesehatan.
Salah satu inovasi yang patut diacungi jempol adalah penerapan iCare JKN.
Melalui inovasi ini, sebagai contoh seorang dokter di Jakarta ternyata dapat mengakses data pasien di Yogyakarta secara real-time, suatu teknologi yang secara teknis Amerika Serikat juga mampu melakukannya, namun mereka belum berhasil mengintegrasikan sistem tersebut karena sistem kesehatan di sana masih terfragmentasi.
Selain itu, Indonesia juga memperkenalkan Mobile JKN, sebuah aplikasi mobile yang memberikan kemudahan akses kepada peserta BPJS Kesehatan.
Meski begitu, tingkat literasi masyarakat dalam penggunaan teknologi kesehatan masih terbatas.
Dari 277 juta peserta, hanya sekitar 39 juta yang secara rutin menggunakan aplikasi ini untuk memeriksa kesehatan mereka secara mandiri melalui pertanyaan-pertanyaan screening.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meskipun berbagai inovasi telah dilakukan, tantangan terbesar yang dihadapi BPJS Kesehatan adalah meningkatkan literasi masyarakat terhadap teknologi kesehatan dan memastikan konektivitas sistem di seluruh Indonesia.
Namun, dengan dukungan teknologi dan komitmen pemerintah, program ini terus berkembang dan diakui oleh berbagai negara lain yang kagum dengan kemajuan Indonesia dalam menyediakan layanan kesehatan yang merata.
Acara ini bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada para jurnalis yang telah berkontribusi dalam menyebarkan informasi seputar layanan kesehatan di bawah naungan BPJS Kesehatan.
Pengumuman nominasi ini terdiri dari lima kategori, yaitu Media Cetak, Media Online, Foto Jurnalistik, Televisi, dan Radio.
Berikut adalah para nominator yang masuk dalam daftar untuk setiap kategori:
I. Kategori Media Cetak
Abdul Jalil dengan karya “Brokohan Mempermudah Emak Akses Asuransi Anak.”
Farid dengan karya “Cerita Guru Tunanetra di Sidoarjo Dimudahkan Mengakses Layanan BPJS Kesehatan.”
Rendi Fadliah dengan karya “Cakupan Semesta JKN-KIS Merata Sampai: TN Bertabik Sembilang.”
II. Kategori Media Online
Dhana Kencana dengan karya “Merajut Asa di Senja Usia: BPJS Kesehatan Berdayakan Kesehatan Lansia.”
Fransiskus Pat Herin dengan karya “Merawat Sesama Napi di Balik Jeruji Besi Lapas Kupang.”
Jihad Akbar dengan karya “Masa Depan Si Sima, Kisah Penderita Katarak Sembuh Berkat Operasi Gratis JKN-KIS.”
III. Kategori Foto Jurnalistik
Adhi Wicaksono dengan karya foto “Pelayanan BPJS Kesehatan Hingga Pelosok Negeri.”
Idris Prasetawan dengan karya foto “Pelayanan Prima BPJS Kesehatan Diserbu Warga.”
Muchtamir dengan karya foto “Layanan Kesehatan Homecare Lorong ke Lorong.”
IV. Kategori Televisi
Kenia Gusaneni dengan karya “Melawan Skizofrenia.”
Nadya Kartika dengan karya “Alat Bantu Kesehatan untuk Peserta BPJS Kesehatan.”
Saladin Ayubu dengan karya “Kabut Sekat Layanan Kesehatan Kita.”
V. Kategori Radio
Rian Aprdhani dengan karya “Layanan BPJS Kesehatan Menembus Dinding Lembaga Pemasyarakatan.”
Taufik dengan karya “Deteksi Dini Penyakit Kronis Lewat Prolanis.”
Ustad Mukrobin dengan karya “Ambulans Ar, Pengabdian Tanpa Batas.”
Acara ini merupakan bentuk dukungan BPJS Kesehatan terhadap peran media dalam menyebarluaskan program jaminan kesehatan dan mendorong inovasi-inovasi baru dalam pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Para jurnalis yang terlibat telah memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya jaminan kesehatan nasional serta memberikan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang.
Penghargaan ini juga menjadi motivasi bagi BPJS Kesehatan untuk terus memperbaiki kualitas layanan serta memperluas cakupan layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Inovasi dan komitmen yang terus berkembang dari para pekerja media akan semakin memperkuat program JKN-KIS di masa depan.
(Rz**)






