SERGAP.CO.ID
KUPANG, || Nama Fransiskus Lara Aba, atau yang akrab disapa Frans Aba, belakangan ini menjadi perbincangan hangat di sejumlah media. Diskusi politik pun tak lepas dari sorotannya, seolah menjadi catatan yang menarik dalam kancah politik berbagai partai.
Dukungan terhadap Frans Aba semakin mengalir deras, terutama setelah ia secara resmi mengumumkan dirinya sebagai kandidat calon gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejak saat itu, namanya terus melambung di jagat politik NTT, seiring dengan dukungan yang mengalir dari berbagai wilayah seperti Nusa Bunga Flores, Nusa Kenari Alor, Bumi Ikan Paus Lembata, Timor Nusa Cendana, dan pulau Sumba atau juga dari Sasando Rote.
Ketua Rumah Gotong Royong, Freed Aga
Bahkan kabarnya, dukungan untuknya merata di 21 kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur.
Rumah Perjuangan di Oebufu Kupang, tempat sekretariat Frans Aba, menjadi pusat perhatian. Setiap harinya, rumah tersebut selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai elemen, termasuk paguyuban dan organisasi sosial. Bahkan ada pengurus dari partai besar di NTT yang secara diam-diam memberikan dukungan politik kepada Frans Aba.
Freed Aga, salah satu anggota Rumah Perjuangan yang dikonfirmasi oleh media ini, mengungkapkan kebenaran informasi tersebut. Menurutnya, dukungan yang diberikan bermula dari keberanian Frans Aba untuk maju sebagai calon gubernur NTT. Banyak pihak memberikan apresiasi atas keberanian tersebut.
Freed juga menyinggung tentang peran penting gerakan bawah tanah yang dipimpin Frans Aba dalam melakukan investigasi terhadap sejumlah figur publik. Investigasi ini dilakukan untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Hasil dari investigasi tersebut menunjukkan bahwa elektabilitas Frans Aba unggul dibandingkan dengan sejumlah kandidat calon gubernur lainnya. Oleh karena itu, Freed memilih untuk bergabung dalam perjuangan Frans Aba setelah menerima keputusan politik dari Frans Aba pasca peristiwa Samana Santa di Larantuka.
Freed mengungkapkan bahwa peristiwa religi, perayaan Hari Baik Natal, Samana Santa, menjadi penguat niat Frans Aba untuk maju sebagai calon gubernur NTT. Niat ini sejalan dengan visi Frans Aba untuk membangun NTT dengan pendekatan persuasif dan solutif dalam mengatasi berbagai persoalan sosial dan pembangunan infrastruktur.
“Dalam menjalankan visi ini, Frans Aba menerapkan pendekatan sosial, kultural, dan budaya dengan pemikiran solutif, sesuai dengan motto pegadaian yang mengatasi masalah tanpa masalah,” kata Freed dengan diplomatis.
Freed juga memberikan apresiasi terhadap antusias kaum muda yang terlibat dalam deklarasi Frans Aba pada tanggal 18 Juni yang lalu. Keberanian Frans Aba sebagai seorang figur muda yang energik berhasil memikat hati mereka.
Terkait dengan partai politik, Freed menyatakan bahwa jika saatnya tiba, Frans Aba akan memutuskan untuk maju sebagai calon gubernur melalui partai politik. Namun, ia menegaskan bahwa mereka terus bekerja keras agar dapat diakomodasi oleh partai politik yang bersedia mendukung Frans Aba. Mereka bukanlah gerbong kosong, melainkan memiliki visi dan misi yang kuat.
Menurut Freed, figur Frans Aba sangat disambut baik dan merakyat, sehingga berhasil menarik berbagai elemen, termasuk kelompok Satu Pintu, untuk bergabung dalam perjuangan Rumah Perjuangan.
“Ayo bergabung bersama Rumah Perjuangan dalam mendukung Frans Aba,” tutup Freed dengan semangat dalam sesi wawancara tersebut.
Dengan semakin melambungnya nama Frans Aba sebagai calon gubernur NTT, dukungan yang merata di berbagai wilayah, dan antusiasme dari berbagai elemen masyarakat, harapan untuk perubahan dan pembangunan di NTT semakin membara. Frans Aba dengan kepemimpinan yang energik dan pendekatan solutifnya menjadi harapan baru bagi NTT dalam mengatasi tantangan sosial dan mempercepat pembangunan infrastruktur.
Pantau terus perkembangan Frans Aba dan Rumah Perjuangan dalam perhelatan politik NTT, karena keberhasilan mereka dapat membawa perubahan yang positif dan membangun bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
(Dessy)






