Oleh : Muhammadun
Saat Kim Ki Woo diminta mengganti temannya menjadi guru privat seorang gadis dari keluarga kaya, dia langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Dia berpikir, dengan memiliki pekerjaan bisa membantu perekonomian keluarga.
Sebab selama ini, keluarganya hidup miskin dan tinggal di sebuah rumah semi basement tak layak huni di tengah kota. Karena situasi sulit itu, keluarganya mau mengerjakan apapun demi uang. Termasuk melipat kotak pizza untuk sebuah kedai.
Kim Ki Woo pun mengatur janji untuk datang ke rumah tuan Park, rumah tempat dia mengajar nantinya. Berbekal alamat yang dipunya, Ki Woo sampai di rumah tuan Park dan memperkenalkan diri sebagai guru privat pengganti temannya. Setelah memperkenalkan diri, Ki Woo mendapat persetujuan keluarga tuan Park menjadi guru privat anaknya.
Sejak awal, keluarga tuan Park mengabaikan risiko saat memutuskan memilih Ki Woo. Dia hanya melihat sosok Ki Woo yang pandai bicara dan pintar memengaruhi dengan baik. Sementara darimana dia berasal dan lahir dari keluarga apa, keluarga tuan Park tak terlalu memikirkannya.
Ini awal kesalahan fatal yang dilakukan tuan Park. Karena seiring berjalannya waktu, Ki Woo yang sudah menjadi orang kepercayaan tuan Park justru memanfaatkan momen untuk mengambil banyak keuntungan dari keluarga kaya tersebut. Ki Woo dengan kebohongannya berhasil membuat semua keluarganya bekerja untuk tuan park, dengan menyingkirkan pekerja-pekerja terdahulunya.
Karena merasa sudah bisa makan enak dan hidup mewah dengan menumpang di keluarga tuan Park, Ki Woo dan keluarganya merasa aman. Padahal itu juga awal dari konflik. Hingga akhirnya tuan Park terbunuh dan keadaan menjadi kacau. Istri dan anak tuan Park pun menjual rumah mewahnya. Sementara keluarga Ki Woo kembali ke asalnya kecuali sang bapak yang bersembunyi di ruang bawah tanah rumah tersebut.
Itu adalah alur film Parasite. Aku sangat menyukai film ini sebab mengajarkan kepada kita untuk jangan terburu-buru menilai seseorang. Kita perlu menimbang faktor risiko terhadap kepercayaan yang kita punya. Sebab kalau itu dikesampingkan, akibat buruk bisa saja datang.
Saat menonton film Parasite ini, pikiranku langsung tertuju pada dinamika perpolitikan di Indonesia. Mengapa? Karena makna yang disajikan sangat berkaitan erat, terutama soal posisi Presiden Jokowi dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran Jokowi saat menunjuk Prabowo sebagai Menteri Pertahanan di kabinetnya. Posisi Prabowo sama seperti Ki Woo. Sama-sama orang baru yang pada mulanya memiliki tujuan sama yakni bekerja. Walaupun seiring berjalannya waktu, baik Ki Woo maupun Prabowo menjelma menjadi sosok oportunis.
Tanpa disadari, Prabowo memanfaatkan momentum kedekatannya dengan Jokowi untuk mencari massa demi keperluan pencalonannya di 2024. Bahkan mungkin yang bikin Prabowo tambah bungah, saat Jokowi pernah satu kali mengendorse dirinya dengan mengatakan kalau pilpres 2024 jatahnya Prabowo.
Sebagaimana yang dialami tuan Park, Jokowi sepertinya telah kadung mempercayai Prabowo. Puncaknya saat Jokowi mengajak Prabowo bersama Ganjar Pranowo melihat panen raya di Kebumen Jawa Tengah. Peristiwa banyak dinarasikan sebagai upaya Jokowi memasangkan Prabowo Ganjar atau Ganjar Prabowo.
Sebenarnya aku menaruh curiga kenapa Jokowi ikut mengendorse Ketum Gerindra ini. Apakah atas dasar kasihan karena tiga kali ikut dalam pilpres dan selalu gagal. Atau apa yang sebenarnya Jokowi lihat dari Prabowo, yang saat sesi debat capres 2019 terlihat kikuk, cuma bisa menyalahkan, dan nggak begitu menguasai data, plus pernah berstatement Indonesia bubar pada 2030 pula?
Aku curiga, apakah karena Jokowi saking narimo ing pandum, sampai melupakan apa yang sudah Prabowo tuduhkan kepada dirinya. Sebab kita nggak lupa loh, pada pertarungan di pilpres sebelumnya, Prabowo menilai kalau gaya blusukan dan merakyat yang dilakukan Jokowi itu cuma akting belaka.
Prabowo juga pernah mengatakan kalau bantuan kemanusiaan yang diberikan Indonesia kepada etnis Rohingya hanya pencitraan Presiden Jokowi saja. Selain itu, jebolan tentara ini juga mengklaim kalau lembaga survei yang memenangkan Jokowi tidak objektif. Katanya itu bagian desain memanipulasi persepsi, hmmm.
Lagipula kalau melihat track record Prabowo, untuk ukuran menjadi seorang pemimpin negara bagiku belum cukup dan belum layak. Lihat saja, karirnya banyak dihabiskan di dunia militer. Dari mulai menjadi Anggota Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), Wakil Komandan Detasement 81 Penanggulangan Teror (Gultor) Kopassus, Danjen Kopassus hingga Pangkostrad.
Walaupun akhirnya dia dicopot dari Pangkostrad karena mengerahkan pasukan tanpa sepengetahuan Presiden Habibie waktu itu. Karir yang bisa dibilang mentereng di militer ini, tak melepaskan Prabowo dari segala perbuatan buruk. Dia dikaitkan dengan isu kudeta dan kasus penculikan aktivis pada 1997-1998.
Isu ini kembali ramai pertengahan 2018 ketika Amerika Serikat membuka 34 dokumen rahasia, yang mengungkap rentetan laporan pada masa pra-reformasi. Salah satunya bahwa Prabowo disebut memerintahkan Kopassus untuk menghilangkan paksa sejumlah aktivis pada 1998. Dokumen ini antara lain menyebutkan bahwa “penghilangan itu diperintahkan Prabowo yang mengikuti perintah dari Presiden Soeharto”.
Ini menjadi catatan hitam Prabowo, yang mungkin sudah melekat dalam dirinya. Dan jika aku pikir, karirnya di dunia militer dengan segala kontroversinya, tidak cukup untuk membuat Prabowo layak menjadi seorang pemimpin negara. Masa iya, kalo benar jadi pemimpin, akan menggunakan cara militer di setiap keputusannya? Kan ngeri.
Walaupun setelah itu dia terjun ke dunia politik, dimulai menjadi Anggota Penasehat Partai Golkar hingga menjadi Ketum Partai Gerindra. Namun tetap saja, pengalaman memimpin masyarakat sangat kurang. Sebab dia tak pernah bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Bayangkan saja, apa jadinya masyarakat dipimpin orang yang tak paham cara memperlakukan mereka? Tak paham apa yang menjadi kebutuhan mereka? Keputusan apa yang bisa diambil dari pemimpin seperti itu, pemimpin yang tidak menguasai medan yang dia pimpin? Bahkan pemimpin yang cenderung otoriter karena mewarisi kepemimpinan Soeharto?
Makanya, risiko kalau Jokowi sampai memilih Prabowo sebagai penerusnya, itu ibarat bom waktu. Bukan menyepelekan Prabowo, tapi bagiku dia belum mengerti Indonesia karena nggak pernah menjadi seorang kepala daerah. Artinya, belum pernah bersinggungan langsung dengan masalah macet, kemiskinan, banjir, hingga mengelola anggaran pemerintahan.
Jika dibandingkan dengan Jokowi ya jelas beda. Jokowi berasal dari sipil sementara Prabowo tidak. Jokowi paham keluhan masyarakat atau merakyat, Prabowo tidak. Jokowi keras memerangi intoleransi dan radikalisme, tapi Prabowo sangat dekat ketika 2019 silam. Yang paling kentara sih, dia nggak pernah jadi kepala daerah. Padahal bagiku, itu adalah kunci untuk membuka republik ini.
Sesuai judul tulisan ini, itulah risiko jika Jokowi memilih Prabowo. Karirnya walaupun mentereng tapi hanya di dunia militer, bukan eksekutif. Bisa dibilang memimpin sebuah negara bukanlah keahlian Prabowo, apalagi di usianya sekarang yang untuk berbicara saja sangat kikuk dan kurang bisa dipahami.
Tapi entah hasrat apa yang menyelimuti Prabowo, sampai-sampai dia secara pribadi terlihat ngebet ingin mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Kalau iya, ini akan menjadi keempat kalinya Prabowo join di pilpres. Dan sepertinya, akan menjadi kekalahan keempat kali juga, sebab masyarakat tahu bila karir Prabowo masih belum layak.
Kalau boleh aku mengutip sebuah hadis Nabi, di sana disebutkan jika sebuah urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka hal itu adalah amanah yang disia-siakan. Jika amanah itu disia-siakan, maka tinggal tunggu sajalah kehancuran atau kekacauannya.
Salam. jakarta 15 April 2023
(**)






