Ponpes Yatim Dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Rabah Berharap Memiliki Bangunan Permanen

Tiga Kali Pindah Ponpes Yatim Dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Rabah Akhinya Bisa Mandiri

SERGAP.CO.ID

KOTA TASIKMALAYA, || Pondok Pesantren Yatim Dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Rabah, awalnya Pesantren ini beralamat di Desa Cisayong Kabupaten Tasikmalaya kini berpindah ke Jl. KH. Muhammad Syuja’i No.69 B, Bojong Kidul, Cipedes, Kota Tasikmalaya, Selasa (12/04/22).

Bacaan Lainnya

Ustad Mahmud Sidik Pimpinan Pengelola Pondok Pesantren Yayasan Yatim Dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Rabah memaparkan tidak mudah ingin memiliki Pesantren permanen, perjuangannya dari awal mendirikan pada Tahun 2019. Karena keterbatasan Biaya yang dimiliki, santri yang ada disini tidak dibebankan biaya, akhirnya pesantren ini 3 kali pindah tempat. “ Terangnya.

Menurut keterangan Ust Mahmud,  Awal datang ke Tasik 20 Agustus 2019, mulai mengajar mengaji di Purbaratu santri yang ada dari diluar Kota Yatim Piatu dan Dhuafa, namun Santri semakin bertambah banyak, akhirnya butuh bangunan untuk menampung santri, dan Alhamdullilah bertemu dengan H Aas Hasbuna (Alm), Sehingga kami diberikan fasilitas di Desa Sukajadi untuk bisa dikelola oleh Pesantren.

Sebelum menjadi Yayasan Yatim dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Robah Pesantren ini dibawah naungan Yayasan Jamiyatul Abror Al Gaza sekitar tahun 2020 lalu, dan diberikan SK pengangkatan Pengurus Mah’ad Bilal Bin Robah. Namun ada usulan agar bisa mandiri, pada Tahun 2021 sudah mandiri dengan nama Yayaysan Mah’ad Bilal Bin Robah. “ Ujarnya.

Lanjutnya Ust. Mahmud aktifitas Santri terus berjalan, Sampai ada seseorang yang selalu ikut mengaji di Pesantren dan memberikan sebidang tanah seluas 530 Meter persegi, tanah berbentuk kolam dan Kebun, sehingga di kelola oleh santri awalnya memakai terpal untuk aktifitas santri laki-laki. Siang malam berbenah untuk asrama selama satu bulan, jadilah asrama semi permanen, 13 x 7 meter.

Setelah jadi asrama fokus membangun Kamar Mandi, ada 6 pintu, tempat Wudhu 10 keran. Dapur ukuran 7×4. Lalu selanjutnya Mesjid pemanen, 13 x 13 meter. Untuk menghimpun donatur Yayasan Bilal Bin Rahab dari Website pesantren, kita sharee dari media sosial, kita belum pernah bawa proposal dan Kotak. Kita menghimpun donatur dari Online. “Pungkasnya.

“ Ada donatur orang Tasik kerja di Australia memberikan Bantuan untuk Masjid, awal membangun Masjid 2 Bulan dikebut oleh para santri siang malam. Adapun jumlah Santri yang ada di Yayasan Bilal Bin Rabah, Santri Putri 18 orang, santri Putra 33 untuk santri putri, pengurus 5 orang santri Putra dan 3 orang putri. “Katanya Ust Mahmud Sidik.

“ Pola pembelajaran di Yayasan Bilal Bin Rabah ada 3 Tingkatan yaitu, Pertama Hafalan Alquran dan Hafalan Matan kitab Tajwid, 1 Tahun. Satu tahun tidak selesai terus diulang, tingkat kedua belajar ilmu nahu dan sorof sampai selesai satu tahun. Tingkat ketiga fokus ke pendalaman kitab dari kitab Fiqih, Tauhid dan lain-lain.

Untuk pendidikan formal kerja sama dengan Madrasah Aliyah (MA) bekerjasama dengan MA Muhamadiyah, ada 7 orang santri yang berjalan di Madrasah Aliyah. ““Bebernya Ust Mahmud Sidik Alumni Pesantren Huda 1994 ini.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *