KUPANG, || Posisi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste dan berhadapan dengan Australia dinilai menyimpan peluang ekonomi besar. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) NTT mendorong keunggulan geografis tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan konektivitas kawasan.
Gagasan itu mengemuka dalam Coffee Morning with Gubernur NTT to Rapimprov KADIN Serentak se-Indonesia 2026 di Hotel Harper Kota Kupang, Kamis (24/9/2026).
Ketua KADIN NTT Bobby Lianto mengatakan forum tersebut harus menghasilkan pembahasan dan langkah konkret bagi dunia usaha, termasuk menangkap peluang ekonomi baru di tengah perubahan global.
“Forum ini kita harapkan dapat membahas problem-problem, kerja ke depan, dan apa yang telah kita lakukan,” kata Bobby.
Menurut Bobby, kedekatan NTT dengan Timor Leste dan Australia merupakan modal strategis yang perlu dikelola lebih serius, salah satunya melalui gagasan pengembangan free trade zone.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan dinamika ekonomi global tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang yang harus segera dimanfaatkan pemerintah bersama dunia usaha.
“Kita di NTT ini punya posisi yang diuntungkan karena kita ada di batas darat dan memiliki potensi untuk mengembangkan free trade zone,” ujarnya.
Melki menegaskan keunggulan tersebut harus diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan dampak bagi masyarakat dan meningkatkan kontribusi NTT terhadap perekonomian nasional.
“Momentum ini pas untuk kita bahas di tengah situasi global, termasuk juga tetangga kita Timor Leste dan Australia yang memiliki hubungan dengan Indonesia sangat penting,” katanya.
Free Trade Zone Butuh Payung Hukum
Asisten II Setda NTT Dr. Zet Sony Libing mengatakan pengembangan kawasan perdagangan bebas membutuhkan regulasi dari pemerintah pusat.
Ia mencontohkan pengalaman Batam yang memiliki pengaturan khusus terkait Free Trade Zone.
“Kita belajar dari Kota Batam, perlu undang-undang yang mengatur Free Trade Zone ini yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat,” tegas Zet.
Menurutnya, Pemprov NTT telah memulai kajian bersama akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Hasil kajian tersebut akan dibahas bersama KADIN dan Pemerintah Timor Leste sebelum diperjuangkan ke pemerintah pusat.
Sementara itu, Ketua Panitia Rapimprov KADIN NTT 2026 Christopher Samara mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari konsolidasi KADIN secara nasional sekaligus mempertemukan pemerintah dan dunia usaha untuk membahas investasi dan pengembangan sektor potensial di NTT.
Dengan posisi geografisnya, NTT kini didorong tidak hanya menjadi wilayah perbatasan, tetapi juga mengambil peran sebagai simpul ekonomi Indonesia di kawasan Timor dan Australia.
Versi ini sudah lebih enak dibaca untuk media online, dengan pengulangan dipangkas dan fokus berita tetap pada free trade zone serta peluang ekonomi NTT.
(Desy)






