Progres PJN II NTT Tembus 87 Persen, Deviasi Fisik dan Keuangan Masih Jadi Sorotan

Caption : Kasatker PJN Wilayah II BPJN NTT, Fahrudin, ST.

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Pekerjaan jalan nasional di bawah Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dikebut. Hingga September 2026, progres fisik tercatat mencapai 87,67 persen, sementara realisasi keuangan berada di angka 78,21 persen.Kondisi tersebut menunjukkan adanya selisih atau deviasi antara progres fisik dan keuangan yang masih cukup besar. Saat ini, deviasi tercatat sekitar 9 persen.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Kasatker PJN Wilayah II Provinsi NTT, Fahrudin, S.T. Ia menjelaskan, pekerjaan yang tengah dilakukan di sejumlah ruas antara lain pekerjaan minor aspal, rabat pada titik longsoran, serta penanganan lubang menggunakan campuran aspal cepat.

“Sekarang sedang dilakukan pekerjaan minor aspal, rabat di lokasi longsoran, dan tambal sulam lubang menggunakan campuran aspal cepat,” ujar Fahrudin.

Menurutnya, deviasi antara progres fisik dan keuangan masih akan berubah seiring proses pengajuan dan pembayaran pekerjaan melalui mekanisme Monthly Certificate (MC).

Ia mengatakan, progres fisik terus dihitung setiap minggu, sedangkan realisasi keuangan masuk melalui proses MC yang dilakukan pada periode pembayaran.

“Biasanya deviasi antara fisik dan keuangan akan lebih kecil karena prinsipnya pekerjaan dilakukan terlebih dahulu, kemudian dibayarkan. Volume pekerjaan harus dihitung dan diverifikasi sebelum pembayaran,” jelasnya.

Fahrudin menegaskan, setiap pekerjaan yang akan dibayarkan harus melalui pemeriksaan mutu. Untuk pekerjaan aspal, misalnya, ketebalan dan kualitas pekerjaan akan diukur untuk memastikan memenuhi ketentuan sebelum pembayaran dilakukan.

“Setiap pembayaran harus diuji mutunya. Aspal, termasuk ketebalannya, juga diukur. Kalau memang layak dibayar, maka pada tanggal 25 di bulan berjalan akan dilakukan pembayaran,” katanya.

Ia menambahkan, secara ideal deviasi antara progres fisik dan keuangan tidak boleh lebih dari 5 persen. Namun, pada paket pekerjaan wilayah Kefamenanu, deviasi masih berada di atas angka tersebut.

Untuk paket Kefamenanu, Fahrudin menyebut progres fisik telah mencapai sekitar 90,7 persen, sedangkan progres keuangan berada di angka 80,2 persen.

Terkait penyelesaian pekerjaan, ia menegaskan tidak ada rencana penambahan waktu maupun anggaran, sejalan dengan kebijakan efisiensi yang diterapkan.

“Tidak ada lagi penambahan waktu maupun penambahan uang, mengingat adanya efisiensi,” tegasnya.

Dengan sisa waktu pelaksanaan yang ada, pihaknya terus mendorong kontraktor mempercepat pekerjaan sekaligus memastikan kualitas pekerjaan tetap memenuhi standar teknis yang ditetapkan.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *