SUMBA TENGAH NTT,||Keluarga Besar Yonif TP 930/Toda Tebi menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H / 2026 M di halaman Markas Batalyon,malam Jumat ba’da shalat Isya.Acara yang mengusung tema Melalui Peringatan Maulid Nabi Muhammad Tahun 1448 H / 2026 M, Kita Mantapkan Tekad Bersama Rakyat, TNI Prima dan Siap Mewujudkan Indonesia yang Maju dan Berdaulat. Acara ini dihadiri sekitar 500 prajurit dari berbagai latar belakang agama, serta turut hadir Komisioner KPU Kabupaten Sumba Tengah, Fahril, S.IP., dan Ramlan Faulani, Staf Kantor Pendidikan Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah.
Kehadiran tokoh sipil dan unsur pemerintah daerah ini mencerminkan sinergi kuat antara TNI,lembaga negara,dan masyarakat dalam menjaga kerukunan di wilayah Sumba Tengah yang heterogen.
Kegiatan dibuka dengan lantunan shalawat merdu dari Tim Hadra Yonif 930/TT yang terdiri dari prajurit Bintara dan Tamtama. Gema shalawat “Marhaban Ya Rasul” dan “Tola’al Badru Alaina” bergema di seluruh area markas, menciptakan suasana khidmat sekaligus menggugah kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kehadiran prajurit beragama Kristen, Katolik, Islam, dan Hindu dalam satu atap menjadi bukti nyata toleransi dan persaudaraan yang hidup di lingkungan TNI.
Dalam sambutannya, Komandan Yonif 930/TT Sumba Tengah, Mayor Inf Afrizal Ramadhan Y.F., S.T.Han., S.I.P., menekankan pentingnya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan utama bagi setiap prajurit. “TNI harus selalu dekat dengan rakyat.Keteladanan Rasulullah dalam kepemimpinan, kejujuran, dan kasih sayang adalah blueprint bagi kita untuk menjadi TNI Prima yang tidak hanya tangguh di medan tempur, tetapi juga hadir di tengah-tengah masyarakat,” ujar Danyonif.
Acara semakin membangkitkan semangat ketika Ustaz Syaiful Sulaiman menyampaikan tausiyah hikmah Maulid Nabi. Ia mengisahkan momen inspiratif Jenderal Besar Abdul Harris Nasution saat ditanya wartawan asing mengenai tokoh idolanya pasca penumpasan G30S/PKI. Dengan tegas, sang Jenderal menjawab: “Nabi Muhammad SAW.” Alasannya sederhana namun mendalam: “Nabiku hebat ketika perang, dan hebat ketika damai.”
Ustaz Syaiful menegaskan bahwa kepemimpinan Rasulullah adalah prototipe ideal bagi TNI masa kini. Ia menguraikan bagaimana Rasulullah mempersatukan Muhajirin dan Ansar, menjaga integritas sejak muda, bersikap adil terhadap tawanan perang, hingga strategi intelijennya yang membuatnya dijuluki sebagai bapak intelijen dunia. Referensi Michael H. Hart dalam buku The 100 yang menempatkan Nabi Muhammad SAW di peringkat pertama—di atas Yesus Kristus, Isaac Newton, Buddha, dan Konghucu—menjadi bukti rasional pengaruh universal beliau.
“Piagam Madinah adalah konstitusi pluralisme pertama di dunia. Di sana, keamanan tiga agama dijaga, saling menghormati, dan hidup berdampingan. Inilah Bineka Tunggal Ika yang sesungguhnya,” jelas Ustaz Syaiful. Ia juga membedah tiga pilar kekuatan negara: kemandirian ekonomi, kekuatan militer, dan persatuan internal—yang semuanya tercermin dalam sunnah Nabi dan menjadi fondasi TNI Prima hari ini.
Menutup tausiyahnya, Ustaz Syaiful mengajak seluruh prajurit untuk tidak hanya siap menghadapi ancaman hibrida modern dan memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga “membentengi rakyat dan berbentang di hati rakyat.” Pesan ini selaras dengan motto Yonif 930/TT: Setia Tangguh Berwibawa.
Peringatan Maulid Nabi 1448 H di Yonif 930/TT bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum penguatan karakter prajurit yang religius, nasionalis, dan inklusif. Di tengah dinamika ancaman kontemporer, keteladanan Rasulullah tetap menjadi kompas moral dan strategis bagi TNI dalam mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, dan penuh keberkahan.
(Ms)






