PADANG, ||Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unand yang bertugas di Nagari Gunung Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, meluncurkan program bertajuk BESTARI (Bersama Eratkan Generasi Bebas Stunting) sebagai upaya mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
Kegiatan ini dipandu oleh Koordinator acara Kaila Fertiana, Koordinator Posyandu Nagari Gunung Padang Alai Nurti Chairiah, Amd.Gz
“Program ini menyasar ibu hamil, ibu balita, kader posyandu, hingga wanita yang baru menikah di sembilan korong yang tersebar di nagari tersebut.
Nagari Gunung Padang Alai memiliki jumlah penduduk mencapai 6.049 jiwa yang tersebar di sembilan korong dengan kondisi geografis yang cukup luas,” ungkap Kaila Fertiana Senin (3/8/2026).
Khaila menyampaikan, kondisi ini menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam pemerataan edukasi dan pelayanan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil dan anak balita, karena jarak antar korong yang tidak dekat.
Berdasarkan penelusuran, mahasiswa KKN bersama tenaga kesehatan setempat, ditemukan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, serta pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi masih perlu ditingkatkan.
“Pemantauan pertumbuhan balita di sejumlah korong pun dinilai belum berjalan optimal, sehingga berisiko memperlambat deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak. Rangkaian Kegiatan di Sembilan Korong
Program BESTARI dijalankan melalui beberapa rangkaian kegiatan promotif dan preventif. Mahasiswa KKN turut serta dalam kegiatan posyandu rutin di lima titik posyandu, membantu kader melakukan skrining berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas (LILA) balita, yang datanya kemudian digunakan untuk memantau status gizi anak secara berkala,” terangnya.
Dikatakan, selain skrining, tim juga memberikan penyuluhan gizi kepada ibu-ibu balita seputar porsi makan yang sesuai usia anak, jadwal pemberian makan, serta jenis pangan yang dianjurkan maupun yang sebaiknya dihindari. Penyuluhan ini dikemas dengan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh masyarakat.
Salah satu kegiatan puncak dari program ini adalah sesi edukasi pembuatan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) berbahan pangan lokal, yang mengundang ibu-ibu dari beberapa korong sekaligus. Menu yang diperkenalkan adalah nugget ikan dengan campuran daun kelor, sebuah MP-ASI bergizi tinggi yang memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar warga. Nugget tersebut dimasak langsung oleh tim KKN pada pagi hari sebelum kegiatan berlangsung. Di lokasi acara, tim kemudian memaparkan proses pembuatannya secara rinci melalui tayangan presentasi bertahap (step-by-step), mulai dari pemilihan bahan, cara mengolah ikan dan daun kelor, hingga proses pencetakan dan penggorengan. Setelah pemaparan, ibu-ibu yang hadir diajak mencicipi langsung nugget ikan daun kelor yang telah disiapkan, sekaligus mendapatkan gambaran rasa dan tekstur yang bisa mereka jadikan acuan saat mempraktikkannya di rumah masing-masing.
“Kami masak dulu dari pagi supaya waktu kegiatan bisa lebih fokus ke penjelasan dan diskusi dengan ibu-ibu, sambil mereka juga bisa langsung mencicipi hasilnya. Harapannya, setelah tahu prosesnya dan sudah coba rasanya, ibu-ibu jadi lebih yakin dan mau mempraktikkan sendiri di rumah,” ujar salah satu anggota tim KKN yang terlibat dalam program ini.
Edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Selain kegiatan lapangan, edukasi mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan juga menjadi fokus utama program BESTARI. Periode ini, yang terhitung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, dikenal sebagai periode emas pertumbuhan otak dan fisik anak yang tidak dapat terulang kembali.
Mahasiswa KKN menekankan bahwa pemberian MP-ASI yang tepat sejak usia enam bulan menjadi salah satu kunci pencegahan stunting, mengingat pada usia tersebut ASI saja sudah tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhan gizi bayi, terutama zat besi.
Leaflet dan Pendampingan Berkelanjutan
Untuk memastikan manfaat program ini dapat dirasakan secara berkelanjutan, tim KKN turut menyusun leaflet pemantauan ibu dan anak yang dibagikan kepada seluruh peserta kegiatan. Leaflet ini berisi ringkasan materi edukasi gizi, jadwal makan, hingga panduan resep MP-ASI berbahan lokal yang dapat dipraktikkan langsung oleh masyarakat di rumah.
Kader posyandu di setiap korong juga dilibatkan secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan, dengan harapan keterampilan pemantauan tumbuh kembang balita yang telah dibagikan dapat terus digunakan meskipun program KKN telah berakhir.
Harapan untuk Generasi Bebas Stunting
Melalui program BESTARI, mahasiswa KKN berharap dapat berkontribusi nyata dalam upaya penurunan angka stunting di Nagari Gunung Padang Alai, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi sejak dini.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh model edukasi gizi berbasis pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan pangan lokal yang dapat direplikasi di nagari-nagari lain.
“Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak, tapi menyangkut kualitas generasi ke depan. Kami berharap program kecil ini bisa jadi langkah awal yang berdampak besar bagi masyarakat di sini,” tutup salah satu perwakilan tim KKN.
Program BESTARI merupakan salah satu program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Gunung Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, yang berfokus pada upaya promotif dan preventif pencegahan stunting melalui edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang balita, dan pemberdayaan pangan lokal.
(Wempi Hardi)






