Menjahit Kembali Konektivitas: Di Balik Progres 55 Persen Jembatan Lelone yang Kini Mulai Kokoh

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Di tengah hiruk-pikuk proyek preservasi Jalan Nasional Sabuk Merah yang telah mencapai 70 persen, ada sebuah karya infrastruktur lain yang sedang dikerjakan dengan ketelitian tinggi di kawasan perbatasan barat Pulau Timor,Penggantian Jembatan Lelone.

Bacaan Lainnya

Dengan alokasi anggaran sebesar Rp5,2 miliar, jembatan ini bukan sekadar struktur beton, melainkan simpul vital yang akan menyatukan kembali mobilitas dan denyut ekonomi masyarakat setempat.

Hingga Sabtu, 11 Juli 2026, progres fisik pembangunan Jembatan Lelone telah menembus angka 55 persen. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4 Provinsi NTT, Dirmala, ST, mengungkapkan bahwa tim lapangan saat ini sedang berada pada fase krusial mempersiapkan pembesian balok dan lantai jembatan. Ini adalah momen di mana “tulang punggung” jembatan mulai dibentuk.

“Upaya ini bertujuan untuk membentuk struktur beton bertulang yang kuat. Besi-besi ini berfungsi menahan gaya tarik yang tidak mampu dipikul oleh beton saja, mencegah keretakan akibat beban lalu lintas yang berat dan perubahan suhu ekstrem, serta menyatukan elemen struktur agar jembatan benar-benar kokoh dan aman,” jelas Dirmala, menggambarkan kompleksitas teknis di balik setiap batang besi yang dirangkai.

Bagi BPJN NTT, percepatan pembangunan Jembatan Lelone adalah strategi untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap konektivitas wilayah. Jembatan baru ini diharapkan menjadi penopang keselamatan pengguna jalan dan memperlancar distribusi logistik dua hal yang selama ini sering menjadi hambatan bagi aktivitas ekonomi di daerah perbatasan.

Dengan momentum positif dari kedua proyek strategis ini, Dirmala menyatakan optimisme bahwa seluruh pekerjaan akan rampung sesuai jadwal. Kehadiran infrastruktur yang andal bukan hanya soal aspal dan beton, tetapi tentang bagaimana masyarakat NTT dapat bergerak lebih cepat, menekan biaya transportasi, dan akhirnya menikmati buah dari pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di tanah Flobamora.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *