Kampus Jadi Garda Depan, LLDikti XV dan Pemprov NTT Perkuat Gerakan “Gentaskin” Atasi Stunting hingga Kemiskinan

SERGAP.CO.ID

KOTA KUPANG, || Perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak lagi hanya menjadi menara gading akademis, melainkan bertransformasi menjadi pusat solusi nyata bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Melalui kolaborasi strategis antara Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV dan Pemerintah Provinsi NTT, gerakan Nusa Tenggara Timur Tuntas Stunting dan Kemiskinan (Gentaskin) terus diperkuat sebagai model pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Gerakan ini merupakan wujud nyata dari semangat “Diktisaintek Berdampak” yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Tujuannya mendorong perguruan tinggi untuk turun langsung menjawab tantangan pembangunan, khususnya penanganan stunting dan kemiskinan yang masih menjadi persoalan krusial di NTT.

Lebih dari Sekadar Angka Stunting

Seiring berjalannya waktu, fokus Gentaskin telah berkembang. Tidak lagi sekadar mengejar penurunan angka stunting, program ini kini bermetamorfosis menjadi gerakan pembangunan manusia yang holistik. Visinya adalah mewujudkan NTT yang sehat, kuat, dan inklusif.

Pendekatan yang digunakan bersifat multidisiplin dan komprehensif. Berbagai perguruan tinggi di NTT didorong untuk mengintegrasikan Tridarma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) agar saling melengkapi. Intervensi dilakukan mulai dari aspek kesehatan masyarakat, teknologi pangan, sanitasi, pendidikan, perubahan perilaku, hingga penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah di rak perpustakaan. Ia harus diterjemahkan menjadi program pembangunan yang bisa dirasakan langsung manfaatnya di tingkat desa,” tegas perwakilan LLDikti Wilayah XV.

Inovasi Kampus untuk Desa

Kolaborasi ini telah melahirkan berbagai inovasi tepat guna yang diterapkan di lapangan. Mulai dari edukasi gizi keluarga, pengembangan pangan lokal bergizi, penguatan layanan kesehatan berbasis data, hingga pendampingan kelompok usaha masyarakat. Semua ini dirancang untuk membangun kemandirian desa secara berkelanjutan.

Sinergi antarkampus juga menjadi kunci keberhasilan. Dengan menggabungkan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, persoalan stunting dan kemiskinan ditangani dari akar masalahnya, bukan hanya gejala permukaannya.

Model Kolaborasi Nasional

LLDIkti Wilayah XV menegaskan bahwa penguatan Gentaskin adalah bagian dari upaya membangun ekosistem pembangunan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menghasilkan solusi berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kemdiktisaintek optimistis bahwa praktik baik melalui Gentaskin dapat menjadi model percontohan (best practice) yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. Dengan sinergi kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat, harapan untuk menciptakan pembangunan yang inklusif dan berdampak nyata semakin terbuka lebar.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *