PADANG, ||Tiga kepala daerah di Sumatera Barat tercatat memiliki jangkauan publik digital tertinggi dibandingkan kepala daerah lainnya berdasarkan hasil pemantauan Polstra Research & Consulting. Ketiganya adalah Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, Wali Kota Padang Fadly Amran, dan Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan Analisis Sentimen Publik Digital terhadap Bupati dan Wali Kota di Sumatera Barat untuk periode pemantauan 27 Mei hingga 28 Juni 2026. Berdasarkan hasil analisis, Ramlan Nurmatias mencatat jangkauan digital sebesar 1.456.389 audiens, disusul Fadly Amran dengan 1.289.826 audiens dan Hendrajoni sebanyak 1.143.966 audiens.
Direktur Eksekutif Polstra Research & Consulting, Yovaldri Riki Putra, menjelaskan bahwa tingginya jangkauan digital tersebut menunjukkan aktivitas komunikasi publik yang lebih intens dibanding kepala daerah lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa temuan tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai indikasi adanya persiapan menuju kontestasi politik tertentu.
“Data ini menunjukkan tingginya eksposur komunikasi digital. Hal itu bisa menjadi bagian dari strategi komunikasi publik, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pencalonan pada pemilihan tertentu,” ujar Yovaldri.
Menurutnya, pengalaman politik yang dimiliki ketiga kepala daerah tersebut memungkinkan mereka lebih memahami pentingnya membangun komunikasi dengan masyarakat melalui platform digital. Dalam era pemerintahan modern, media sosial dan media daring telah menjadi sarana utama untuk menyampaikan program kerja, capaian pembangunan, hingga merespons aspirasi masyarakat.
Yovaldri menilai komunikasi digital kini menjadi bagian dari tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Masyarakat tidak hanya ingin mengetahui hasil pembangunan, tetapi juga proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.
“Komunikasi publik bukan sekadar membangun citra. Pemerintah yang aktif menyampaikan informasi akan lebih mudah menjelaskan kebijakan, menerima masukan, serta membangun kepercayaan masyarakat,” katanya.
Meski demikian, Polstra mencatat bahwa besarnya jangkauan digital tidak selalu sejalan dengan persepsi publik yang terbentuk. Analisis sentimen menunjukkan adanya perbedaan respons masyarakat terhadap masing-masing kepala daerah.
Ramlan Nurmatias, misalnya, memperoleh jangkauan digital tertinggi sekaligus mencatat sentimen positif tertinggi di kelompok wali kota selama periode pemantauan, tanpa sentimen negatif yang terdeteksi dalam data penelitian. Sementara itu, Fadly Amran memperoleh sentimen positif sebesar 8 persen dengan sentimen negatif 2 persen. Adapun Hendrajoni mencatat sentimen positif 4 persen dan sentimen negatif 7 persen.
Polstra menjelaskan bahwa analisis tersebut menggunakan metode keyword-based crawling terhadap percakapan di berbagai platform digital, meliputi X, Facebook, YouTube, TikTok, serta pemberitaan media daring. Data yang terkumpul kemudian melalui proses penyaringan berdasarkan relevansi, penghapusan data ganda, dan klasifikasi sentimen secara otomatis sebelum dianalisis lebih lanjut.
Lembaga riset tersebut menegaskan bahwa hasil analisis ini menggambarkan pola percakapan publik di ruang digital selama periode penelitian. Oleh karena itu, temuan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengukur tingkat elektabilitas, popularitas, maupun menjadi prediksi terhadap hasil pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah di masa mendatang.
Melalui laporan tersebut, Polstra berharap hasil pemantauan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam memperkuat komunikasi publik, meningkatkan transparansi kebijakan, serta membangun hubungan yang lebih efektif dengan masyarakat melalui pemanfaatan media digital.
(Wempi Hardi)






