KAB. PANDEGLANG, || Ditengah suasana pedesaan yang tenang di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, secangkir kopi menjadi medium lahirnya percakapan tentang kebersamaan, keamanan, dan nilai kemanusiaan. Bertempat di Saung Sang Jurnalis Desa, sejumlah elemen masyarakat, insan pers, dan tokoh komunitas berkumpul dalam suasana santai yang sarat makna mengenai pentingnya sinergitas antara Polri dan masyarakat, Minggu (10/05/2026).
Pertemuan tersebut menggambarkan bahwa komunikasi sosial tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal. Di saung sederhana itu, dialog mengalir secara alami, menghadirkan gagasan bahwa keamanan dan ketertiban sejatinya dibangun dari hubungan emosional yang sehat antara aparat dan warga.
Ketua Jurnalis Banten Bersatu, Kasman, menilai bahwa sinergitas tidak cukup hanya dibangun melalui program kelembagaan, tetapi juga melalui kedekatan sosial yang menghadirkan rasa saling percaya.
“Ketika aparat dan masyarakat duduk bersama tanpa sekat, maka lahirlah ruang kejujuran. Kopi hanyalah simbol, tetapi yang paling penting adalah terciptanya komunikasi yang humanis dan penuh rasa saling menghargai,” ujar Kasman.
Menurutnya, peran jurnalis juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan informasi di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa pers memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pemberitaan yang menyejukkan serta mampu memperkuat persatuan sosial.
Senada dengan itu, Rohmat mengatakan bahwa hubungan harmonis antara Polri dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan stabilitas sosial. Ia menilai pendekatan dialogis mampu mengurangi kesalahpahaman yang kerap muncul di ruang publik.
“Di era keterbukaan informasi saat ini, komunikasi menjadi hal utama. Ketika masyarakat merasa didengar, maka kepercayaan terhadap institusi juga akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Rohmat.
Sementara itu, Sujana melihat budaya ngopi bersama sebagai bagian dari filosofi masyarakat Banten yang menjunjung musyawarah dan kebersamaan. Menurut dia, ruang-ruang sederhana seperti saung justru sering melahirkan pemikiran yang lebih jernih dan egaliter.
“Budaya lokal kita mengajarkan pentingnya duduk bersama sebelum mengambil kesimpulan. Dari komunikasi yang sederhana, lahir persaudaraan dan rasa memiliki terhadap lingkungan,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Heri Ruswandi yang menilai sinergitas antara Polri dan elemen masyarakat harus terus dirawat dalam semangat kolektif menjaga kondusivitas wilayah.
“Keamanan bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat dan kepolisian berjalan berdampingan, maka stabilitas sosial akan lebih mudah terjaga,” ujar Heri Ruswandi.
Secara filosofis, pertemuan di Saung Sang Jurnalis Desa itu menjadi refleksi bahwa demokrasi sosial bertumbuh dari ruang-ruang percakapan yang setara. Dalam suasana sederhana, tanpa formalitas berlebihan, dialog menghadirkan nilai kemanusiaan yang lebih mendalam dibanding sekadar hubungan struktural.
Di tengah tantangan sosial yang terus berkembang, secangkir kopi di sudut Desa Cibungur menjadi simbol bahwa harmoni bangsa dapat tumbuh dari kesediaan untuk saling mendengar, menghormati, dan menjaga kebersamaan.
(Kamri s/embing)





