KUPANG, ||Senator asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Abraham Paul Liyanto menegaskan bahwa sektor pendidikan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama pembangunan jika ingin memperkuat perekonomian masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan masa reses di daratan Pulau Timor dalam pertemuan bersama Wakil Bupati Malaka dan jajaran perangkat daerah, Jumat (27/2/2026).
Abraham menilai sejak awal kemerdekaan Indonesia keliru dalam menetapkan prioritas pembangunan. Menurutnya, pembangunan seharusnya dimulai dari penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan, baru kemudian berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.
“Negara kita dari awal kemerdekaan telah keliru menetapkan prioritas pembangunan. Harusnya dari awal kita membangun sektor pendidikan dan kesehatan, baru bicara soal ekonomi. Karena dengan sumber daya manusia yang hebat dan prima kita bisa menggerakkan roda ekonomi secara baik,” tegas senator RI daerah pemilihan u NTT tersebut.
Ia juga menyinggung ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara lain seperti Korea Selatan. Padahal, kata dia, kedua negara hampir bersamaan meraih kemerdekaan.
“Kita kalah jauh dengan Korea Selatan padahal kita merdeka hanya selang hari saja. Itu karena mereka fokus pada pendidikan, sedangkan kita lebih fokus pada ekonomi,” lanjutnya.
Abraham mengungkapkan, selama hampir dua dekade terakhir dirinya secara konsisten berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan kesehatan di NTT.
Melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, ia menaruh perhatian besar pada pendidikan di bidang kesehatan.
Ia juga menyampaikan bahwa izin Fakultas Kedokteran telah diperoleh pada akhir tahun lalu dan pada tahun ini akan mulai menerima mahasiswa angkatan pertama.
“Sejak 18 tahun lalu saya fokus pada bidang pendidikan dan kesehatan ini. Saya bangun sekolah dari TK sampai perguruan tinggi dengan fokus utama pada sekolah kesehatan. Puji Tuhan, akhir tahun lalu izin Fakultas Kedokteran telah ada dan tahun ini kita mulai tahun pertama,” jelas pemilik Universitas Citra Bangsa tersebut.
Menurut Abraham, akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu juga menjadi perhatian utama. Mereka yang berprestasi diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan secara gratis agar memiliki pola pikir yang lebih baik serta kepedulian terhadap sesama.
“Anak-anak yang tidak mampu namun berprestasi kita beri sekolah gratis. Intinya kita mendidik mereka agar memiliki mindset yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih berempati. Dengan SDM yang lebih baik saya yakin kita bisa keluar dari ketertinggalan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu dalam sambutannya menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menjalin kerja sama dengan Universitas Citra Bangsa (UCB) terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
“Tentu semua ini akan kita diskusikan lebih lanjut dengan Bapak Bupati. Secara umum kita siap bekerja sama dengan UCB dalam bidang pendidikan dan kesehatan,” ujar Henri.
Saat ini jumlah peserta didik di lingkungan Citra Bangsa mencapai sekitar 10.000 orang, terdiri dari sekitar 3.000 siswa pada jenjang pendidikan TK, dasar dan menengah, serta sekitar 7.000 mahasiswa di tingkat perguruan tinggi.
Ribuan lulusan UCB disebut telah bekerja di berbagai sektor, baik sebagai aparatur sipil negara, pekerja swasta, maupun tenaga profesional di luar negeri dengan penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan.
Kepala Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UCB, Vinsen Belawa Lemaking, menambahkan bahwa para lulusan UCB dipersiapkan untuk memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
“Sejauh ini para lulusan kita telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam peningkatan ekonomi keluarga. Kita terus berbenah dalam tridarma perguruan tinggi agar tetap selaras dengan visi misi UCB yaitu dengan kasih, dari pendidikan dan kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
(Desy)






