RUBRIK, || Kecepatan dan ketepatan telah menjadi tuntutan utama dalam era digital, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) yang mendorong perubahan operasional di berbagai sektor, termasuk dunia jurnalistik.
Dalam praktik jurnalistik modern, kecepatan (speed) dan ketepatan atau akurasi (accuracy) menjadi dua elemen krusial yang harus berjalan beriringan, meskipun kerap berada dalam posisi yang saling bertentangan, khususnya di era media sosial yang serba instan.
Kecepatan merujuk pada seberapa cepat informasi diproduksi dan disebarluaskan kepada publik, sementara ketepatan berkaitan langsung dengan kebenaran, validitas fakta, serta proses verifikasi informasi sebelum dipublikasikan.
Tekanan untuk menjadi yang tercepat sering kali membuat sebagian media tergoda mengabaikan proses verifikasi, sehingga berisiko menyebarkan misinformasi atau hoaks yang dapat merugikan publik dan mencederai kepercayaan masyarakat.
Praktik jurnalistik yang terburu-buru tanpa konfirmasi sumber yang memadai tidak hanya berdampak pada kualitas berita, tetapi juga berpotensi merusak reputasi media serta melanggar prinsip etika jurnalistik.
Ketepatan informasi merupakan fondasi utama kepercayaan publik (credibility), karena hanya berita yang akurat, berimbang, dan terverifikasi yang mampu memberikan informasi yang benar, mendalam, serta mendidik masyarakat.
Prinsip dasar jurnalistik menegaskan bahwa ketepatan tidak dapat dikompromikan, sekalipun kecepatan menjadi kebutuhan di era digital yang kompetitif dan berbasis klik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, media dituntut menguasai teknik verifikasi yang cepat namun teruji, seperti konfirmasi kepada sumber yang kredibel, pengecekan data ganda, serta pemanfaatan teknologi pendukung secara bertanggung jawab.
Selain itu, transparansi menjadi kunci penting dalam menjaga integritas media, di mana setiap kesalahan yang terlanjur dipublikasikan harus segera dikoreksi secara terbuka dan profesional.
Pada akhirnya, kecepatan tinggi tanpa ketepatan hanya akan menghasilkan disinformasi, sehingga jurnalisme yang baik bukanlah sekadar yang tercepat, melainkan yang paling akurat, karena kepercayaan publik dibangun atas dasar kebenaran, bukan kecepatan semata.
(M. Adhar)






