SBD, NTT, || Beberapa orang tua wali siswa SMA ST. Alfonsus dan SMA Manda Elu mengkritik keras penanganan makanan bergizi (MBG) setelah anak‑anak mereka mengalami keracunan makanan pada 10 November lalu. Setelah gejala muncul, para siswa dirujuk ke Rumah Sakit Karitas, RS Pratama Reda Bolo, Puskesmas Watu Kawula, dan satu siswi bahkan dipindahkan ke RSUD Waikabubak untuk perawatan lanjutan. Selasa11 November 2025.
Noviati Lende, orang tua siswi asal desa Kadi Pada, Kecamatan Tambolaka, menyatakan, “Kami meminta guru dan pengelola MBG lebih memperhatikan menu, terutama kebersihan daging. Jika tidak bisa menjamin kualitas, sebaiknya program ini dihentikan atau dialihkan menjadi bantuan biaya sekolah gratis. Lebih baik anggaran dipakai untuk kebutuhan lain daripada harus melihat anak‑anak kami berakhir di rumah sakit.”
Wali lain menambahkan, “Program MBG memang nasional, tapi kalau terus menimbulkan risiko kesehatan, kami sangat khawatir. Lauk harus diproses dengan standar yang layak, bukan sekadar diberikan secara gratis.”
Pihak sekolah dan Di nas Pendidikan belum memberikan komentar resmi, sementara CV Dapur Mandiri masih meninjau penyebab kejadian.”Sumber Eman)
(Ms)






