KOTA TASIKMALAYA, || Ketua Pelaksana Lomba Merpati Tingkat Tinggi di Lapak Nagrog, Tasikmalaya, mengecam keras tindakan salah satu anggota panitia yang diduga memotong hadiah bagi pemenang lomba. Ia menyebut perbuatan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap etika dan prinsip sportivitas dalam perlombaan.
Dugaan pemotongan hadiah ini dilakukan oleh oknum panitia berinisial Acep. Ia disebut-sebut telah mengurangi nominal hadiah secara sepihak tanpa pemberitahuan dan persetujuan dari pihak penyelenggara maupun peserta. Beberapa pemenang pun mengaku tidak menerima hadiah sesuai kesepakatan awal.
Aksi ini langsung memicu protes dari peserta dan komunitas pencinta burung merpati. Mereka menilai kejadian tersebut sangat mencederai kepercayaan terhadap panitia serta mencoreng nama baik ajang kompetisi yang seharusnya menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.
“Ini bukan soal besar kecil nominalnya, tapi soal integritas panitia. Peserta sudah bertanding dengan serius dan sesuai aturan, namun malah diperlakukan seperti ini,” ujar salah satu perwakilan peserta yang enggan disebut namanya. Sabtu 02/08/2025.
Ketua pelaksana sendiri menyatakan akan menindak tegas oknum tersebut dan siap membuka ruang klarifikasi. Ia juga menyerukan kepada komunitas dan organisasi pecinta merpati untuk turut mengawal transparansi dalam setiap perlombaan agar kejadian serupa tidak terulang.
Transparansi, menurutnya, merupakan elemen penting dalam setiap kompetisi. Rincian hadiah, tata tertib lomba, serta hasil akhir harus disampaikan secara terbuka dan tertulis kepada semua peserta sejak awal.
Secara hukum, meskipun belum ada peraturan khusus mengenai penyelenggaraan lomba merpati, tindakan pemotongan hadiah tanpa alasan yang sah dapat dikategorikan sebagai penipuan atau penggelapan, yang dapat diproses sesuai ketentuan pidana.
Lebih dari sekadar materi, perbuatan ini merusak nilai-nilai moral dan sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam dunia perlombaan, terutama oleh panitia sebagai pihak yang dipercaya untuk mengatur jalannya acara.
Insiden ini juga mencerminkan lemahnya sistem pengawasan internal dalam kepanitiaan. Ketidaksesuaian dalam pembagian hadiah menandakan kurangnya profesionalisme dalam mengelola kegiatan yang bersifat publik.
Ketua pelaksana menegaskan bahwa ke depan, pihaknya akan memperbaiki sistem manajemen dan memperketat seleksi anggota panitia demi menjaga integritas lomba. “Kami tidak ingin kasus ini berulang. Ini pelajaran penting bagi semua penyelenggara lomba di manapun,” pungkasnya.
(Tim)






