SOE, || SMA Negeri 1 Soe resmi menerima 432 siswa baru untuk tahun ajaran 2025/2026. Kepala SMAN 1 Soe, Rovis E. Selan, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa jumlah tersebut merupakan batas maksimal sesuai regulasi dari Kementerian Pendidikan.
“Memang hanya bisa 12 kelas dengan maksimal 36 siswa per rombel. Itu aturan dari Kementerian, jadi kami harus patuh,” ujar Rovis saat ditemui media, Jumat (1/8/2025).
Menurutnya, animo masyarakat sangat tinggi untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SMAN 1 Soe. Namun, keterbatasan kuota membuat pihak sekolah tidak bisa menerima lebih banyak siswa dari yang telah ditentukan.
“Penerimaan berbasis sistem. Jadi siapa cepat dia dapat. Kami hanya melakukan verifikasi dari sekolah, selebihnya sistem yang menentukan,” jelasnya.
Pendaftaran dilakukan secara online selama tiga hari, mengikuti petunjuk dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Hari pertama bahkan dibuka dalam dua sesi karena lonjakan pendaftar.
Lokasi sekolah yang strategis menjadi salah satu daya tarik utama. Selain itu, SMAN 1 Soe merupakan satu-satunya sekolah negeri di wilayah tersebut yang semakin menunjukkan kemajuan dari sisi kedisiplinan siswa.
“Dulu anak-anak suka keliaran, sekarang sudah mulai berkurang. Disiplin juga makin baik,” ujar Rovis.
Ia juga menyoroti kualitas guru di sekolah yang menurutnya sangat berdedikasi dan sering mengharumkan nama sekolah lewat berbagai lomba. Salah satunya adalah kemenangan dalam lomba cerdas cermat 4 Pilar Kebangsaan tingkat provinsi.
“Juara satu tingkat provinsi dan akan mewakili NTT ke tingkat nasional pada November mendatang. Itu prestasi luar biasa,” ungkapnya bangga.
Untuk kegiatan ekstrakurikuler, sekolah ini memiliki berbagai pilihan mulai dari tarian tradisional-modern, paskibraka, bela diri, hingga olahraga seperti bola voli.
Saat ini, total siswa SMAN 1 Soe berjumlah 1.323 orang dengan dukungan 76 guru, 12 pegawai, dan sejumlah guru penggerak. Fasilitas penunjang seperti laboratorium dan perpustakaan juga tersedia.
Rovis menambahkan bahwa salah satu fokus utama sekolah adalah mencegah bullying. Upaya ini dilakukan dengan melibatkan pihak kepolisian dan kejaksaan untuk mengedukasi siswa secara rutin.
“Efek bullying itu besar, jadi kami terus sosialisasikan agar siswa paham dan tidak melakukannya,” katanya.
Ia berharap seluruh guru terus bekerja sama dan bergerak aktif tanpa harus menunggu instruksi demi mewujudkan sekolah yang lebih maju dan efektif.
(Dessy)






