SERGAP.CO.ID
KAB. BANDUNG, || Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mencatatkan prestasi gemilang dengan menjadi pionir dalam pembentukan Koperasi Merah Putih dan inovasi pengelolaan sampah. Keberhasilan ini bahkan menarik perhatian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Perdagangan, Zulkifli Hasan, yang hadir langsung pada Kamis (15/5)
Kepala Desa (Kades) Cangkuang Wetan, Asep Kusmiadi, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian ini.
“Alhamdulillah, hari ini desa kami kedatangan Bapak Menteri Julkifli Hasan dalam rangka melihat launching poliklinik dan apotek desa. Ini semua berawal dari Musyawarah Desa (Musdes) Koperasi Merah Putih pada tanggal 14 Mei. Sungguh luar biasa, sehari setelah Musdes, sertifikat Akta Hukum Pendirian (AHU) dari Kemenkumham sudah terbit,” ujarnya.
Kecepatan ini menjadi sorotan karena pemerintah pusat menargetkan pembentukan Koperasi Merah Putih di seluruh desa di Indonesia paling lambat tanggal 31 Mei 2025. Desa Cangkuang Wetan berhasil menjadi yang terdepan, dengan legalitas koperasi yang tuntas dalam waktu singkat, lengkap dengan ketua, pengurus, dan program kerja yang konkret.
Tentu, Imbuh Kades Asep, Salah satu program kerja nyata koperasi ini adalah pendirian poliklinik dan apotek desa, yang langsung diresmikan oleh Menteri Zulkifli Hasan. Selain itu, Menteri juga menunjukkan ketertarikannya pada sistem pengelolaan sampah inovatif yang diterapkan di Desa Cangkuang Wetan.
“Kami tidak hanya menjadi pionir dalam pembentukan koperasi, tetapi juga dalam pengelolaan sampah yang diolah menjadi berbagai inovasi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas,” jelas Asep Kusmiadi.
Ia menambahkan bahwa pengolahan sampah menjadi gas memberikan manfaat langsung bagi ibu rumah tangga yang rutin menabung sampah di bank sampah desa. Mereka akan mendapatkan isi ulang gas dari hasil pengolahan sampah tersebut.
Sebelumnya, kata Kades, desa ini juga telah beberapa kali dikunjungi oleh pejabat tingkat kota, kabupaten, hingga provinsi. Keunggulan Desa Cangkuang Wetan terletak pada kemampuannya menyatukan konsep pengelolaan sampah rumah tangga menjadi bisnis sirkular yang menguntungkan.
“Melalui bank sampah desa, sampah yang dipilah menjadi organik dan non-organik tidak hanya diuangkan, tetapi juga menjadi modal bagi anggota koperasi. Bahkan, sebagian besar anggota baru koperasi ini berasal dari anggota bank sampah. Sistem cash back insentif bagi anggota bank sampah yang memilah sampah juga menjadi daya tarik tersendiri,” tambahnya
“Saya kira Bapak Menteri tertarik dengan konsep ini karena koperasinya ada, pengelolaan sampahnya berjalan, dan fasilitas kesehatan berupa poliklinik dan apotek juga tersedia,” tutur Asep Kusmiadi.
Ke depan, kata Kades, Desa Cangkuang Wetan memiliki visi untuk mengembangkan potensi pengelolaan sampah lebih jauh, termasuk menghasilkan listrik dan air uap destilasi steril dari hasil pembakaran sampah.
“Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan pengelolaan sampah sebagai sumber ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya.
(Asp)






