Benediktus Pureklolon: Panorama Laut Todanara Disebut Lebih Indah dari Bunaken, Riset Italia Ungkap Potensi Wisata Bahari

SERGAP.CO.ID

LEWOLEBA, || Kekayaan alam dan kearifan ekologis masyarakat adat Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, menyimpan potensi besar bagi pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan. Bahkan, berdasarkan hasil pengamatan tim peneliti dari Italia, panorama laut di kawasan tersebut dinilai memiliki keindahan yang melampaui Bunaken, salah satu destinasi wisata bahari unggulan Indonesia.

Bacaan Lainnya

Penilaian tersebut disampaikan Direktur LSM Barakat Kabupaten Lembata, Benediktus Bedil Pureklolon, dalam sambutannya pada peluncuran OPPA (Oring Paus Paguyuban Adat) dan OMMA (Oring Muro Masyarakat Adat), sekaligus peluncuran buku Muru: Penjaga Masyarakat Adat Lewohala, di kawasan wisata Bukit Ili Lolong, Desa Todanara, Selasa, 3 November 2026.

Kegiatan bertema “Belajar dari Adat, Bertumbuh Bersama Masyarakat, Menjaga Laut untuk Generasi Mendatang” itu dihadiri Bupati Lembata P. Kanis Tuaq, anggota DPRD Kabupaten Lembata Sebastianus Muri dari Fraksi PDI Perjuangan, Vigis Koban dari Fraksi Gerindra, dan Stefanus Tapobali dari Fraksi NasDem.

Turut hadir Plt. Camat Ile Ape Timur Itong Making, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata Anselmus Asan Ola, Direktur IDEP Selaras Alam Bernando H., Kepala Desa Todanara Fransiskus Boli, para pemangku adat, tokoh masyarakat,  dari empat desa, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Pureklolon menjelaskan, kawasan Bukit Ili Lolong sesungguhnya telah memiliki bangunan sejak 2016. Namun, selama kurang lebih satu dekade, infrastruktur tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang aktivitas sosial, edukasi, dan pengembangan potensi wisata masyarakat.

Menurut dia, peluncuran OPPA dan OMMA merupakan langkah awal menghidupkan kembali kawasan tersebut melalui inisiatif masyarakat dan kolaborasi dengan pemerintah daerah.

“Bangunan ini sudah dibangun sejak 2016. Artinya, selama sepuluh tahun kita hanya melihat bangunan ini berdiri tanpa roh. Hari ini, melalui inisiatif dan gagasan bersama, kita mulai membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menjadikan tempat ini sebagai OPPA dan OMMA,” ujarnya.

Ia menilai Todanara bukan sekadar desa dengan lanskap alam yang menarik, melainkan sebuah kawasan yang memiliki modal ekologis, sosial, dan kultural untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis pengetahuan lokal.

Selain panorama laut, kawasan tersebut memiliki ekosistem mangrove yang relatif padat. Keberadaan vegetasi mangrove memiliki fungsi ekologis penting, antara lain menjaga stabilitas pesisir, menjadi habitat biota laut, serta mendukung keberlanjutan rantai makanan dalam ekosistem perairan.

Lebih jauh, masyarakat setempat masih mempertahankan praktik adat muru, yakni sistem pengelolaan sumber daya laut berbasis kearifan lokal. Praktik ini mengatur hubungan manusia dengan laut, termasuk pembatasan pemanfaatan wilayah perairan dalam kurun waktu tertentu agar ekosistem memperoleh kesempatan untuk melakukan pemulihan secara alami.

“Muru bagi masyarakat adat bukan sekadar menutup wilayah laut untuk sementara waktu. Ini merupakan cara masyarakat memberikan kesempatan kepada alam untuk memulihkan dirinya,” katanya.

Pureklolon menegaskan, prinsip konservasi tersebut perlu ditempatkan sebagai fondasi pengembangan pariwisata bahari. Sebab, keberhasilan pembangunan destinasi wisata tidak semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan atau keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga daya dukung lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa sumber daya alam bukan hanya milik generasi sekarang.

“Bumi ini bukan warisan dari nenek moyang, melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Karena itu, pengelolaan sumber daya laut tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan masyarakat hari ini. Kita harus memikirkan bagaimana laut tetap menyediakan kehidupan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi masyarakat adat dan para pemangku kepentingan yang terus membuka ruang komunikasi dan koordinasi di tengah perbedaan pandangan maupun kepentingan dalam pengelolaan wilayah adat.

Menurutnya, komunikasi yang terbuka merupakan modal sosial untuk mencegah konflik sekaligus memperkuat tata kelola sumber daya alam secara partisipatif.

Sementara itu, Bupati Lembata P. Kanis Tuaq menyampaikan apresiasi kepada LSM Barakat dan seluruh pihak yang telah mengambil inisiatif memanfaatkan aset pemerintah daerah di kawasan Bukit Ili Lolong.

Ia mengatakan, bangunan pemerintah yang tidak dimanfaatkan dan dirawat berpotensi mengalami kerusakan. Karena itu, pemanfaatan kawasan tersebut untuk kegiatan pariwisata, pendidikan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat merupakan langkah positif.

Bupati juga mendorong kolaborasi lintas perangkat daerah untuk mengoptimalkan potensi lokal, termasuk pengembangan jagung pulut sebagai salah satu komoditas pangan khas daerah yang mulai dikembangkan kembali melalui penangkaran benih lokal.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya menjaga ekosistem laut. Menurutnya, keberadaan kawasan konservasi, termasuk ekosistem yang mendukung kehidupan biota laut, merupakan investasi ekologis bagi keberlanjutan perikanan masyarakat.

Ia mengibaratkan kawasan tersebut sebagai apartemen atau hotel bagi ikan, tempat biota laut berlindung, berkembang biak, dan mempertahankan populasinya.

“Kita tidak boleh hanya mengambil dan memanen ikan dari laut. Kita juga harus merawatnya. Kalau hari ini kita tidak merawat laut, sesungguhnya kita sedang mencuri hak anak cucu kita,” tegasnya.

Bupati berharap keberadaan OPPA dan OMMA tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang pembelajaran masyarakat tentang lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, pemanfaatan limbah rumah tangga, pertanian lokal, dan pelestarian kearifan adat.

Peluncuran buku Muru: Penjaga Masyarakat Adat Lewohala juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Buku ini diharapkan memperkuat dokumentasi pengetahuan tradisional sekaligus memperluas pemahaman generasi muda mengenai hubungan antara adat, identitas masyarakat, dan konservasi lingkungan.

Melalui OPPA dan OMMA, kawasan Bukit Ili Lolong diharapkan tumbuh menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan tradisional dan pendekatan ilmiah, antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan ekologis, serta antara pemerintah dan masyarakat adat.

Todanara dengan laut, mangrove, dan tradisi muru memiliki peluang untuk memperlihatkan bahwa pariwisata tidak harus dibangun dengan mengeksploitasi alam. Sebaliknya, kekuatan sebuah destinasi justru dapat tumbuh dari kemampuan masyarakat menjaga alam dan mewariskan pengetahuan ekologis kepada generasi berikutnya.

( Desi )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *