Dr. Susanti: Krisis Iklim Karena 3 Sifat Manusia – Serakah, Egois, dan Eksploitatif
Bandung Barat— Praktik kebun campuran atau agroforestri tradisional dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan perkebunan skala besar. Hal itu disampaikan dalam diskusi yang digelar IWF di Bandung, Kamis (11/9/2026).
Dr. Susanti Withaningsih selaku pemateri mengatakan, kerusakan lingkungan saat ini tidak lepas dari 3 sifat yang mendominasi manusia: serakah, egois, dan eksploitatif.
“Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya termasuk kebun dan hutan. Padahal ada 9 batas planet yang kalau dilanggar bumi jadi tidak stabil. Salah satunya keanekaragaman hayati. Di Indonesia garisnya sudah kuning bahkan merah,” ujarnya.
Masyarakat Klaim Kehilangan Lahan Karena PLTA dan Izin Hutan
Dalam diskusi disoroti keluhan masyarakat yang merasa kehilangan lahan akibat pembangunan PLTA dan izin pinjam pakai kawasan hutan.
Padahal menurut pemateri, secara aturan perusahaan yang mendapat izin harus mengganti 2 kali lipat berupa hutan, bukan tanah kosong.
“Mereka harus mengganti dua kali lipat berupa hutan. Sampai sekarang pun itu masih hutan,” jelasnya.
Data yang disebutkan, pada April 2026 Kementerian mengeluarkan izin untuk 16 perusahaan dengan total luasan kurang lebih 900 hektare untuk periode 2004-2025. Kawasan yang terdampak antara lain Bandung Barat dan Cianjur.
Solusi: Kerjasama dengan Petani dan Sistem MPTS
Untuk menjawab persoalan tersebut, dilakukan kerjasama dengan petani melalui sistem MPTS atau Multi Purpose Tree Species. Di dalamnya ditanam sayur, pohon buah-buahan yang disepakati masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat mau menjaga dan itu juga diinginkan oleh PLN,” kata narasumber.
Praktik kebun campuran disebut sudah dilakukan sejak lama. Sistem ini tidak mengeksploitasi alam berlebihan. Bahkan ada prinsip “tanam secukupnya”.
Contohnya di Pangandaran dan wilayah Jawa Barat lainnya. Polanya hutan, kebun campuran, sawah, lalu pekarangan rumah. Kini ditambah budidaya lebah untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
“Lebah meningkatkan produktivitas karena penyerbukan. Itu salah satu contoh optimalisasi tanpa merusak,” tambah Dr. Susanti.
Contoh Rumah Berkelanjutan
Konsep lain yang dibahas adalah “rumah berkelanjutan”. Rumah didesain berdasarkan jumlah penghuni, berapa sayur yang harus ditanam, berapa ternak dan pohonBerkelanjutan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Padahal dulu kita di kampung sudah menerapkan konsep itu. Kembali lagi, kuncinya dari diri kita: kurangi serakah, optimalkan tanpa merusak,” pungkasnya.
Acara diskusi ini dihadiri peserta dari berbagai daerah termasuk Kalimantan dan Sumatera. Sesi ditutup dengan istirahat 15 menit pada pukul 16.15 WIB.
(Dewi)






