Dayeuhkolot ( Sergap.co.id )— Sebuah bok kontrol misterius di Jalan Terusan Moch. Toha, tepatnya di kawasan Jalan Radio Palasari, Kecamatan Dayeuhkolot, kini memicu sorotan keras. Sudah lebih dari dua pekan ditelusuri, namun tak satu pun instansi yang mengakui kepemilikan infrastruktur tersebut. Rabu (22/4/2026)
Tim Pentahelix Kecamatan Dayeuhkolot menyatakan telah melakukan konfirmasi ke berbagai pihak yang dinilai memiliki kewenangan. Hasilnya seragam: tidak ada yang mengakui.
PDAM Tirta Wening, Tirta Jabar, hingga Kertaraharja secara resmi menyatakan bok kontrol tersebut bukan bagian dari aset mereka. Pernyataan tersebut disampaikan setelah dilakukan pengecekan internal.
Namun situasi menjadi semakin janggal ketika Tim Pentahelix upaya konfirmasi kepada pihak Telkom—yang diduga memiliki keterkaitan jaringan—tidak mendapatkan respons sama sekali. Upaya komunikasi melalui telepon, pesan WhatsApp dan bersurat belum dijawab hingga berita ini diturunkan.
Fakta ini memunculkan pertanyaan serius di ruang publik: apakah ada pembiaran terhadap infrastruktur tanpa kejelasan, atau memang terjadi miskomunikasi antarinstansi?
“Ini bukan benda kecil yang bisa diabaikan. Letaknya di ruang publik, berdampak pada pekerjaan dan keselamatan. Tapi tidak ada yang mengakui. Ini harus dijelaskan,” tegas perwakilan Tim Pentahelix di lokasi
Keberadaan bok kontrol tanpa kejelasan tersebut kini dinilai berpotensi menghambat pekerjaan drainase yang tengah berlangsung, bahkan berisiko terhadap keselamatan pengguna jalan jika terus dibiarkan tanpa penanganan.
Dalam situasi yang semakin tidak pasti, Tim Pentahelix mengambil langkah tegas: akan menutup sementara bok kontrol tersebut demi memastikan pekerjaan tetap berjalan dan menghindari potensi bahaya di lapangan.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal keras kepada seluruh instansi terkait agar tidak terus bersikap pasif.
“Kalau tidak ada yang mengakui, jangan sampai publik menilai ada pembiaran. Infrastruktur publik harus jelas penanggung jawabnya. Kami menunggu klarifikasi resmi,” ujarnya.
Sorotan kini tidak lagi hanya pada keberadaan bok kontrol, tetapi juga pada respons antarinstansi yang dinilai lambat dalam menjawab persoalan di lapangan.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang memberikan pernyataan resmi terkait kepemilikan bok kontrol tersebut. Publik pun menunggu: siapa yang akhirnya akan muncul dan bertanggung jawab?






