KUPANG, || Anto Bisilisin dari Divisi Kredit Komersil & Menengah Bank NTT menegaskan bahwa Bank NTT terus memperkuat perannya sebagai ujung tombak pembiayaan rumah rakyat di Nusa Tenggara Timur. Dalam sosialisasi program KPR Sejahtera FLPP di Kupang, ia menuturkan bahwa Bank NTT sejak lama terlibat aktif dalam pembiayaan perumahan melalui skema BP Tapera.
Menurut Anto, penyaluran Tapera yang dikelola Bank NTT telah berjalan sejak 2016 dengan total 2.042 debitur dan nilai pembiayaan mencapai sekitar Rp201 miliar. Skema ini dinilai memberi peluang besar bagi ASN maupun pekerja swasta yang memiliki penghasilan tetap.
“Tidak hanya ASN, masyarakat maupun pegawai swasta yang berpenghasilan tetap juga bisa mengakses KPR. Silakan bertanya ke petugas Bank NTT untuk informasi lebih jelas,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Bank NTT memasang target pembiayaan rumah sebanyak 300 unit hingga 2026. Dari jumlah tersebut, 247 unit sudah terealisasi dan 53 unit sisanya masih menunggu proses penyelesaian. Anto optimistis target tersebut dapat tercapai melalui perluasan sosialisasi dan kemitraan.
Anto juga menekankan bahwa rumah adalah bentuk investasi jangka panjang yang lebih stabil dibandingkan aset bergerak seperti kendaraan.
“Kalau kendaraan, 5 tahun saja harganya turun. Tapi rumah bisa bertahan 30 tahun, bahkan nilainya bisa naik lagi,” jelasnya.
Untuk mendukung ekosistem pembiayaan perumahan, Bank NTT kini menggandeng 16 developer di NTT. Sebanyak 10 developer beroperasi di wilayah Kota dan Kabupaten Kupang, sedangkan 6 lainnya tersebar di daerah lain. Kolaborasi ini mencakup pengembangan perumahan hingga pembiayaan pembangunan.
Sementara itu, kebutuhan hunian di kalangan ASN dinilai masih sangat tinggi. Kepala BKB NTT, Yos Rasi, menyampaikan bahwa jumlah ASN Pemprov NTT mencapai sekitar 15 ribu orang, dan pada 2025 ada tambahan 1.000 CASN baru. Menurutnya, banyak dari mereka belum memiliki rumah milik sendiri.
“Masih ada ASN yang sampai saat ini tinggal di kontrakan. Saya yakin CASN yang baru direkrut itu pun belum punya rumah. Inilah mengapa rumah menjadi kebutuhan mendasar,” kata Yos.
Ia berharap ASN dan CASN memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakses fasilitas KPR Sejahtera FLPP, sehingga dapat memiliki hunian layak tanpa terbebani skema pembiayaan yang berat.
Perwakilan BP Bapera, Budi Santoso, dalam kesempatan itu juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan keputusan mengambil KPR dengan kondisi keuangan pribadi. Ia menyebutkan bahwa program ini efektif, namun harus tetap sejalan dengan prioritas kebutuhan masing-masing.
“Program ini bermanfaat besar bagi kita semua di NTT. Namun, kembali lagi ke pribadi masing-masing, sesuai kebutuhan dan skala prioritas,” ujar Budi.
Dengan semakin intensifnya kampanye pembiayaan perumahan dan dukungan para pemangku kepentingan, Bank NTT berharap akses masyarakat terhadap rumah layak semakin terbuka luas.
(Dessy)*






