KAB. TASIKMALAYA, || Program Menu Bergizi Gratis (MBG) di Tasikmalaya kembali disorot publik setelah dalam lima bulan terakhir tercatat dua kali memunculkan dugaan kasus keracunan massal. Alih-alih menyehatkan, program yang digadang mendukung gizi anak sekolah ini justru menimbulkan kecemasan.
Kasus pertama terjadi pada 2 Mei 2025 di Kecamatan Rajapolah. Puluhan siswa dari beberapa sekolah dasar dan menengah mendadak mual, pusing, hingga muntah usai mengonsumsi makanan dari dapur MBG yang dikelola Yayasan Abubakar. Berdasarkan catatan medis, 51 siswa terdampak dengan 38 di antaranya harus dirawat di Puskesmas Rajapolah.
Siti Marlina (38), seorang guru SD setempat, mengungkap awalnya para guru mengira gejala itu hanya masuk angin biasa. Namun, jumlah siswa yang mengeluh terus bertambah sehingga akhirnya dilaporkan ke puskesmas. Ujarnya beberapa hari yang lalu.
Peristiwa serupa kembali terulang pada 18 September 2025 di Kecamatan Cikalong. Sebanyak 63 siswa mengalami gejala yang sama setelah menyantap makanan dari dapur MBG di bawah Yayasan Suyono Miharta Wijaya. Dari jumlah itu, 13 siswa harus menjalani perawatan intensif dan sisanya mendapat penanganan medis ringan.
Salah satu orang tua murid, Heri Suparman (42), mengisahkan anaknya muntah-muntah sepulang sekolah dan baru membaik setelah diberi obat klinik. Cerita serupa dialami puluhan keluarga lainnya yang turut panik dengan kondisi mendadak tersebut.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan dugaan penyebab berbeda di dua kecamatan. Di Rajapolah, ayam teriyaki yang disajikan dilaporkan berasa aneh, sementara di Cikalong, makanan yang diduga bermasalah adalah mie yang disimpan terlalu lama sebelum dibagikan.
Seorang petugas kesehatan menegaskan menu bergizi bisa berubah menjadi ancaman bila pengolahan dan penyajiannya tidak sesuai standar. Hal inilah yang kini menjadi perhatian tim medis maupun aparat penegak hukum.
Kasus Rajapolah ditangani Polda Jawa Barat, sementara Bareskrim Polri turun langsung menangani insiden di Cikalong. Sampel makanan dari kedua dapur MBG sudah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat untuk uji forensik, meski hingga kini hasilnya belum dipublikasikan.
Ironisnya, dapur MBG di Cikalong masih beroperasi di tengah penyelidikan. Sementara dapur Rajapolah hanya sempat dihentikan sebulan sebelum kembali berjalan. Kondisi ini memicu keresahan orang tua murid yang khawatir kasus serupa terulang.
Pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Siliwangi, Dr. Ahmad Ramdani, menilai berulangnya kasus menandakan lemahnya pengawasan. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah dan yayasan penyelenggara wajib bertanggung jawab penuh. “Tegasnya Jumat 26/09/2025.
Hingga kini, publik masih menunggu transparansi hasil laboratorium sekaligus langkah tegas agar program pangan publik tidak berubah menjadi ancaman baru bagi keselamatan anak-anak.
(R**)






