KUOANG, || Anggota DPRD Provinsi NTT asal Timor Tengah Selatan (TTS), David Imanuel Boimau, menegaskan bahwa peringatan hari jadi ke-103 Kota Soe harus menjadi momentum refleksi bersama untuk membangun daerah. Menurutnya, usia panjang sebuah kota tidak boleh hanya dimaknai sebagai seremonial belaka, melainkan titik balik untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM), menjaga budaya, dan meningkatkan etos kerja masyarakat.
“Hari ini Soe berusia 103 tahun. Ini bukan sekadar angka, tapi ajakan bagi kita semua untuk berbenah. Potensi alam dan budaya luar biasa, tetapi yang paling penting adalah manusia yang mengelola semua itu. SDM adalah modal terbesar kita,” ujar David dalam keterangannya, Senin (1/9/2025).
Kota Soe sendiri memiliki sejarah panjang. Nama Soe diyakini berasal dari ungkapan lokal “Au Soe Oe” yang berarti “saya timba air.” Dari aktivitas sederhana itu lahirlah identitas kota yang hingga kini melekat kuat. Sejarah juga mencatat pemindahan pusat pemerintahan dari Kapan ke Soe, sebuah langkah strategis menjadikannya pusat pertumbuhan di selatan Pulau Timor.
Meski masih ada perdebatan soal usia pastinya, peringatan 103 tahun hari ini tetap memiliki makna simbolis. Lebih dari sekadar hitungan tahun, ia menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk terus memperkuat fondasi pembangunan.
David menambahkan, pendidikan adalah kunci dalam menyiapkan generasi mendatang.
“Banyak anak muda TTS sudah menembus perguruan tinggi ternama, bahkan berprestasi. Tapi kita masih punya tantangan akses pendidikan yang merata dan keterbatasan fasilitas. Sekolah harus jadi ruang inspiratif, guru diberi pelatihan berkelanjutan, dan siswa perlu dibekali keterampilan hidup. Kita harus mencetak pencipta kerja, bukan hanya pencari kerja,” tegasnya.
Selain pendidikan, budaya juga harus dijaga. Kota Soe dikenal kaya akan tradisi, mulai dari tenun ikat, tarian tradisional, hingga nilai adat istiadat. Namun, arus modernisasi berisiko mengikis identitas itu.
“Budaya adalah jati diri kita. Kalau hilang, kita kehilangan arah. Karena itu, pendidikan budaya penting untuk diwariskan secara sistematis ke generasi muda,” ungkap David.
Ia juga menyoroti soal kepemimpinan di daerah. Menurutnya, Soe dan TTS butuh pemimpin yang berhati dan berani.
“Kita butuh pemimpin yang mau mendengar rakyat, yang berani mengambil keputusan sulit demi kepentingan bersama. Jangan hanya membangun jalan atau gedung, tapi juga membangun manusianya,” ujarnya.
Lebih jauh, David mengingatkan soal etos kerja masyarakat TTS yang masih perlu ditingkatkan.
“Sering kali kita kalah bukan karena tidak mampu, tapi karena kurang disiplin. Budaya malu ketika abai pada tanggung jawab harus kita hidupkan kembali. Kalau kita mau keluar dari stigma kemiskinan, harus mulai dari hal kecil: tepat waktu, kerja tuntas, dan jujur,” tambahnya.
Momentum peringatan 103 tahun ini, lanjut David, harus dijadikan ajakan kolektif untuk memperbaiki diri.
“Ini kesempatan emas. Kita harus menjadikan ulang tahun Kota Soe sebagai titik balik. SDM, budaya, pendidikan, dan etos kerja adalah empat pilar yang harus kita dorong bersama-sama,” katanya.
Ia pun optimistis TTS bisa keluar dari stigma keterbelakangan bila semua elemen bergerak bersama.
“Kalau dikelola baik, TTS bisa jadi teladan bagi kabupaten lain di NTT. Tapi semua kembali ke kita: kalau bukan kita yang kerja keras, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” pungkas David.
Hari ini, Kota Soe menapaki usia 103 tahun. Perjalanan panjang ini menjadi pengingat bahwa bertambahnya usia harus sejalan dengan meningkatnya kualitas hidup masyarakat. SDM adalah kunci dari semua perubahan itu.
Selamat ulang tahun ke-103 Kota Soe. Semoga semakin jaya, penuh kasih, dan menjadi kebanggaan masyarakat Timor Tengah Selatan.
(Dessy)






