KUPANG, || Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Timur (NTT), Suratmi Hamida, menegaskan pentingnya kehadiran lembaga pendidikan vokasi seperti Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang sebagai motor perubahan bagi penempatan pekerja migran NTT yang lebih kompeten dan profesional.
Hal ini disampaikannya saat mendukung kehadiran Dirjen Promosi, Pemanfaatan, dan Peluang Kerja Luar Negeri dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KPWMI), Dwi Setiawan Susanto, dalam peresmian Migrant Center di kampus UCB.
“Harapan saya, jika ini dipersiapkan secara matang dimulai dari UCB, karena universitas lain belum punya kelas vokasi. Hanya UCB yang sudah punya. Saya ingin kolaborasi ini berdampak pada peningkatan penempatan pekerja yang berkompeten,” kata Suratmi.
Menurutnya, BP3MI NTT harus “naik kelas” dan tidak boleh lagi hanya dikenal sebagai instansi yang mengirim pembantu rumah tangga ke Malaysia.
“Saya rindu BP3MI NTT naik kelas. Jangan sampai hanya mengirim pembantu ke Malaysia yang akhirnya banyak jadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” ujarnya tegas.
Lagi katanya, 95 persen pekerjaan kita tertarik ke luar negeri hanya tamatan SD dimana pangsa pasar luar negeri tidak dapat menerima hanya Malaysia yang bisa menerima.
Ini jadi tantangan kita bersama. Jangan sampai karena tak punya skill, mereka berakhir dalam situasi kerja yang buruk bahkan meninggal,” imbuhnya.
Suratmi pun meminta pemerintah daerah di Provinsi, Kabupaten, dan Kota agar memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai lembaga penyiapan keterampilan tenaga kerja.
“Itu kewenangan daerah, bukan pusat. Ketika BLK daerah tidak punya dana, bisa kolaborasi dengan kampus vokasi. Jangan biarkan angka pengangguran NTT yang masih di atas 40.000” tandasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab kampus bukan hanya mendidik, tapi juga membuka akses pasar kerja.
“Pangsa kerja di NTT sangat terbatas, sehingga kampus harus bisa bantu cari celah ke luar negeri. Tapi bukan sekadar kirim, harus berkualitas,” katanya.
Ia pun mengungkap alasan mengapa banyak jenazah pekerja migran asal NTT dipulangkan dari luar negeri, khususnya Malaysia.
“Karena warga kita tetap merasa tanah leluhur adalah tempat pulang, meski meninggal di luar negeri. Malaysia sendiri mengakui mereka sebagai pekerja, walau kita di Indonesia menganggap ilegal,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar jenazah pekerja migran asal NTT meninggal bukan di rumah sakit, sehingga perlu diotopsi sesuai syarat KBRI.
“Otopsi itu bukan untuk ambil organ, tapi untuk tahu penyebab kematian. Karena tanpa keterangan itu, tidak bisa dikeluarkan surat kematian,” tegasnya.
Pola hidup yang salah juga menjadi penyumbang kematian tenaga kerja migran asal NTT.
“Banyak yang kerja keras tapi tidak tahu cara merawat diri. Minum kopi, merokok, minum penambah energi tapi lupa minum air putih. Akibatnya kena gagal ginjal, TBC, dan paru-paru akut,” tuturnya.
Di akhir dialog, ia mengimbau agar calon pekerja migran memahami dua hal penting: konsep bekerja dan konsep melindungi diri.
“Jangan asal berangkat karena tergiur gaji. Harus paham cara kerja dan cara menjaga tubuh. Kita mau anak-anak NTT jadi pekerja unggul, bukan korban,” pungkasnya.
(Dessy)






