Meningkatkan Budaya Literasi Membaca pada Generasi Milenial Upaya Membangun Generasi Milenial Melek Literasi

Oleh Dominikus Dara Mone, Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Katolik Weetebula, Sumba-NTT

SERGAP.CO.ID

Bacaan Lainnya

OPINI, || Berbicara tentang membaca dijaman sekarang ini utamanya Negara kita Indonesia sangatlah kurang diminati oleh generasi Z. Banyak siswa dan bahkan mahasiswa pada hakikatnya tidak termotivasi dalam membaca (literasi). Mereka lebih banyak menyibukkan diri pada hal-hal yang kurang produktif dari pada hal-hal yang menunjang masa depan mereka, seperti belajar dan membaca buku. Kaum generasi Z menganggap bahwa membaca itu hal yang biasa saja, tidak ada kecintaan pada buku yang mendorong mereka untuk membaca.

Apalagi dijaman sekarang dengan teknologi yang semakin canggih memudahkan kaum milenial untuk mengakses informasi dengan sangat cepat dari berbagai media elektronik dan media sosial. Penggunaan teknologi seperti Handphone bukan lagi barang asing, tetapi sudah merupakan kebutuhan, khususnya bagi anak muda generasi milenial. Akibat pengaruh teknologi yang serba memudahkan dalam segala aspek kehidupan, kaum Generasi Z menjadi generasi yang tergantung pada teknologi. Mereka menjadi malas membaca (literasi), jika ada tugas (PR) tinggal membuka google untuk mencari jawaban. Semua sudah tersedia di google. Fenomena inilah yang terjadi sekarang pada generasi Z yang mau serba instan. Belum lagi adanya aplikasi game online yang menyita banyak waktu mereka didepan HP android.

Jika saya menyebutkan bahwa minat baca anak muda generasi Z sekarang ini menurun apakah anda setuju? Tentunya beberapa dari kita setuju akan pendapat saya. Apalagi ditambah dengan berbagai penelitian dan kajian dari lembaga-lembaga yang berfokus pada literasi. Angka literasi Indonesia menurut survey Program of International Student Assesment (PISA) memang dalam angka yang bisa dibilang mengkhawatirkan. Dengan peringkat 64 dari 65 Negara, dan dalam penelitian yang sama juga menempatkan Indonesia pada peringkat 57 dalam hal membaca. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Indonesia tidak terlalu suka dengan kegiatan membaca. Menurut National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Membaca merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar. Putra (2008: 129) menyatakan bahwa budaya membaca (literasi) suatu bangsa menjadi tolak ukur kemajuan atau peradaban suatu bangsa. Budaya membaca yang tinggi pada masyarakat menunjukan perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Seiring dengan hal tersebut, beberapa Negara maju di dunia menjadikan membaca (literasi) sebagai salah satu kegiatan yang tidak lepas dari kehidupan mereka. Membaca menjadi sarana untuk mempelajari dunia yang diinginkan sehingga generasi Z bisa memperluas pengetahuan.

Membaca (literasi) dianggap sebagai kegiatan yang penting karena dengan membaca generasi Z akan memperoleh wawasan yang berguna untuk meningkatkan kecerdasannya, sehingga mereka siap dalam menghadapi tantangan dimasa kini yang semakin berat akibat arus globalisasi begitu cepat. Putra (2008: 7) mengungkapkan bahwa kegiatan literasi dapat membuat generasi Z lebih terbuka cakrawala pemikirannya. Membaca menjadi sarana untuk memperoleh beragam informasi yang sekarang ini tersaji dalam bahan bacaan seperti majalah, surat kabar, buku pengetahuan, dan lain-lain. Dengan demikian membaca penting untuk semua orang tak terkecuali untuk anak muda generasi Z.

Membiasakan kegiatan membaca (literasi) tentu tidak mudah, maka dibutuhkan minat membaca. Rahim (2008: 28) mengemukakan bahwa minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Seseorang yang memiliki minat membaca yang kuat akan terlihat pada kesediaannya dalam meluangkan waktu untuk sering melakukan aktivitas membaca. Seseorang yang dalam dirinya belum mempunyai minat membaca tidak akan menjadi suatu kegiatan yang penting untuk dilakukan. Generasi Z perlu menumbuhkan minat membaca dalam dirinya karena membaca merupakan keterampilan yang mendasari tingkat pendidikan selanjutnya. Menyadari pentingnya minat baca maka generasi Z harus benar-benar serius dalam kegiatan membaca.

Rendahnya minat membaca anak muda generasi Z disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor penyebab rendahnya minat membaca yang berasal dalam dirinya, Sedangkan faktor eksternal adalah faktor penyebab rendahnya minat membaca yang berasal dari luar dirinya.

Berdasarkan hasil penelitian, faktor internal penyebab rendahnya minat membaca generasi Z karena kurangnya kemampuan membaca dan kurangnya kebiasaan membaca. Kemampuan membaca menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya minat membaca yang berasal dari dalam diri. Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assesment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdikan menunjukan kemahiran membaca anak Indonesia sangat memprihatinkan sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, faktor eksternal rendahnya minat membaca pada generasi milenial dipengaruhi oleh lingkungan sekolah yang kurang mendukung, peran perpustakaan belum maksimal, lingkungan keluarga yang kurang mendukung, pengaruh teknologi dan pengaruh bermain game online di Handphone.

Pembelajaran yang diterapkan oleh guru juga menjadi salah satu faktor eksternal penyebab rendahnya minat membaca anak. Masalah lainnya adalah guru jarang memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana belajar siswa, pembelajaran dominan dilakukan didalam kelas. Guru belum membiasakan siswa untuk membaca dan mencari buku-buku penunjang pembelajaran di perpustakaan. Hal tersebut menjadikan siswa tidak terbiasa untuk mencari buku-buku yang mereka butuhkan di perpustakaan. Siswa seharunya diberi kesempatan untuk mempunyai pengalaman belajar diluar kelas, salah satunya di perpustakaan untuk menumbuhkan minat membaca siswa.

Faktor eksternal penyebab rendahnya minat membaca generasi Z juga bisa dari lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Hal ini diketahui dari budaya membaca di lingkungan keluarga yang masih rendah dan orang tua yang jarang membelikan buku serta mengajak anak ke toko buku. Hal tersebut juga disebabkan oleh latar belakang ekonomi keluarga termasuk dalam ekonomi menengah kebawah. Kesibukan orang tua siswa dalam bekerja membuat orang tua mereka tidak memiliki waktu untuk mengawasi anaknya agar belajar dan membaca buku. Selain itu latar belakang pendidikan orang tua yang kurang tinggi membuat orang tua siswa belum memiliki kesadaran tentang pentingnya kegiatan membaca.

Temuan diatas sesuai dengan pendapat Wahyuni (2008: 181) yang mengatakan bahwa penyebab rendahnya minat baca generasi Z karena lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar yang kurang mendukung kebiasaan membaca. Kesibukan orang tua dalam berbagai kegiatan berdampak pada minimnya waktu luang bahkan hampir tidak ada waktu untuk melakukan kegiatan membaca. Anak yang setiap harinya jarang melihat kegiatan membaca secara umum juga akan kurang memiliki kegemaran membaca.

Faktor eksternal penyebab rendahnya minat membaca generasi Z yang terakhir adalah pengaruh teknologi. Generasi Z lebih banyak menggunakan waktu untuk bermain Tiktok, Facebook, WhatsAp, Instagram dan bermain game online di HP android. Generasi Z cenderung menyukai hal-hal yang sifatnya hiburan lewat media sosial (Medsos) sekitar 2-7 jam perharinya. Intensitas bermedia sosial dan bermain game online yang cukup sering tentu akan menyita waktu untuk belajar dan membaca buku.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prasetyono (2008:29) yang mengemukakan bahwa kenyataannya kebanyakan anak muda generasi Z lebih menyukai scrool medsos yang sifatnya hiburan lewat HP android dan sejenisnya dari pada membaca. Derasnya fitur-fitur aplikasi medsos yang semakin banyak membuat anak muda generasi Z berlama-lama didepan layar HP android mereka. Meskipun beberapa fitur aplikasi itu tidak salah, namun apabila mengonsumsinya terlalu sering dapat menyita waktu yang berharga yang seharusnya bisa dialokasikan untuk hal-hal yang bermanfaat yaitu kegiatan membaca buku.

Perkembangan teknologi khususnya handphone (HP) menarik minat anak muda generasi milenial. Rata-rata mereka sudah memiliki HP android, waktu yang digunakan untuk bermain HP cukup lama yaitu sekitar 2-7 jam perhari. Sebagian besar anak muda menggunakan HP untuk bermain game online. Kesukaan mereka bermain game online akan mengalihkan minat mereka dari belajar dan membaca buku.

Hal tersebut sesuai dengan Prasetyono (2008:29) yang mengemukakan bahwa kemajuan dibidang teknologi, seperti komputer, hanphone dan pengembangan berbagai fitur aplikasi yang diprogramkan dalam HP, disatu sisi mendatangkan banyak manfaat tetapi disisi lain berdampak buruk bagi perkembangan anak muda generasi Z. Hal yang perlu diwaspadai adalah waktu untuk berlama-lama bermain game online dan scroll media sosial karena ini akan menjauhkan mereka dari aktivitas membaca buku.

Agar lembaga pendidikan mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi untuk anak muda generasi Z, Beers, dkk (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Intruction, menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif kepada generasi Z, antara lain;
Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi
Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai lingkungan sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat.

Mengupayakan sekolah dan kampus sebagai lingkungan akademik yang literat.

Terlepas dari konteks diatas, upaya membangun budaya literasi perlu kesadaran diri oleh anak muda generasi Z. Seperti membiasakan diri membaca buku, majalah, koran atau sumber informasi lainnya seperti pemanfaatan teknologi, salah satunya memanfaatkan handphone menjadi alat belajar dan membaca dari google dan media lainnya yang menunjang proses belajar mereka. Selain itu generasi Z juga harus mengurangi melakukan hal-hal tidak menguntungkan, seperti bermain game online, scroll media sosial yang berlebihan seperti aplikasi Facebook, Instagram, Tiktok dan aplikasi lain menyita banyak waktu dan menghambat belajar mereka.

Tidak dapat dipungkiri, peran keluarga juga ikut memegang andil sangat penting terutama peran orang tua dalam terciptanya budaya literasi pada anak-anak mereka untuk belajar dan membaca buku. Orang tua memperhatikan fasilitas yang mendukung belajar anak mereka, seperti membelikan buku-buku bacaan untuk bahan belajar anak mereka. Selain itu juga orang tua harus memiliki waktu untuk memantau dan membantu anak mereka agar terus belajar dan membaca buku serta membangun kerjasama dengan pihak sekolah atau kampus untuk terus memantau proses perkembangan pendidikan anak mereka.

Peran pemerintah juga dituntut besar, seperti memperkuat dunia pembukuan, memperbanyak taman bacaan atau perpustakaan, mensubsidi buku-buku. Serta paling penting menggalakkan budaya literasi kepada generasi Z.

Hari ini generasi Z atau siapapun “jangan takut menjadi seorang kutu buku”. Karena budaya membaca bukan merupakan faktor bawaan, tetapi faktor kebiasan dalam hidup. Budaya membaca sebagai budaya literasi tidak lagi terpaku secara sempit pada ruang kelas, tetapi dilihat lebih luas. Penumbuhan budaya literasi generasi Z ditentukan oleh sikap. Jika memiliki sikap positif untuk membangun kebiasan membaca maka akan tumbuh minat membaca yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan atau disebut budaya literasi.

(MSS**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *