Dinsos P3A Pessel, Antarkan Tiga Lansia ke Panti Asuhan, Agar Mendapatkan Perhatian Layak

SERGAP.CO.ID,

PESISIR SELATAN,– Kurangnya perhatian anak dan cucu, serta juga akibat dari keterbatasan kemampuan ekonomi, membuat sebagian lanjut usia (Lansia) menjadi terlantar dan tidak bisa menikmati masa tuanya dengan layak.  Kondisi itu juga dapat ditemui di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel).

Agar tidak menimbulkan persoalan sosial di masyarakat, sehingga panti jompo dijadikan sebagai pilihan, agar para lansia yang terlantar tersebut bisa hidup secara wajar.

Caption : Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Pessel, Zulfian Apianto melalui kepala seksi (Kasi) Rehabilitasi Sosial, Harmen Sabri Senin 18 Nopember 2019.  

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Pessel, Zulfian Apianto melalui kepala seksi (Kasi) Rehabilitasi Sosial, Harmen Sabri Senin 18 Nopember 2019.  

Diungkapkanya, bahwa untuk menangani lansia yang terlantar, pihaknya melakukan kerjasama dengan Panti Jompo Sabai Nan Aluih Sicincin yang beralamat di Padang Pariaman.

“Minimnya perhatian anak dan cucu terhadap lanjut usia, juga masih ditemui di daerah ini. Agar tidak menimbulkan persoalan sosial di tengah-tengah masyarakat, sehingga bagi mereka yang diterlantarkan itu, kami antar ke Panti Jompo Sabai Nan Alui Sicincin di Padang Pariaman. Ini kami lakukan agar mereka bisa menikmati sisa hidup secara wajar,” katanya.

Dijelaskanya bahwa selama tahun 2019 ini, pihaknya sudah mengirim sebanyak tiga orang lansia untuk dilakukan perawatan di Panti Jompo tersebut. Langkah itu dilakukanya, sebab tiga lansia tersebut tidak mendapatkan perhatian dari keluarga.

“Ini kami lakukan karena Dinsos PPPA Pessel memiliki kerjasama dengan Panti Jompo Sabai Nan Alui tersebut, dalam melakukan penanganan dan rehabilitasi terhadap lansia yang terlantar,” ujarnya.

Dikatakanya bahwa tiga lansia yang sudah diantarkan ke Panti Jompo Sabai Nan Alui itu diantaranya, AN 73, warga Salido, SD 78, warga Bungo Pasang, dan AF 60, warga Batangkapas.

“Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Sebab tahun 2018 lalu itu, Dinsos PPPA Pessel hanya mengantar 2 orang lansia ke Panti Jompo tersebut,” jelasnya lagi.

Anggota Komis IV DPRD Pessel, Yusli Mardan ketika diminta komentarnya Senin (18/11) menjelaskan bahwa sebenarnya panti jompo merupakan pilihan terakhir bagi para lansia karena akan menyebabkan mereka merasa dibuang.

“Panti jompo itu adalah pilihan terakhir. Para lansia atau orang tua ingin dimengerti dan dihargai, pilihan tepat adalah bersama anak dan cucu-cucunya. Namun mau apa lagi, sebab mereka memang tidak lagi mendapatkan perhatian dari keluarganya. Sehingga apa yang dilakukan oleh Dinas Sosial PPPA Pessel itu sudah merupakan hal yang tepat,” ungkapnya.

Baranjak dari kondisi itu, sehingga dia berharap kepada yang masih muda-muda saat ini, agar mempersiapkan diri untuk menghadapi masa lansia.

“Saat orang tua masih muda, pikirannya mencari uang untuk masa depan anaknya. Tapi saat tua, yang dipikirkannya adalah warisan untuk anak-anaknya. Agar panti jompo tidak dijadikan sebagai pilihan di masa tua, maka kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi masa lansia itu. Namun yang lebih utama lagi bagaimana seorang anak dan cucu memiliki kesadaran bahwa merawat orang tua itu adalah kewajiban,” timpalnya.

(Wempi Hardi. SH)

Pos terkait

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.