Sederhana, Sarat Makna: Pernikahan Anak Jurnalis di Aceh Selatan

SERGAP.CO.ID

ACEH SELATAN, || Tak ada dekorasi mewah atau panggung megah. Prosesi ijab kabul putri seorang jurnalis Sergap.co.id berlangsung khidmat di Masjid Al Ihsan, Gampong Ladang Rimba, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa, 23 Juni 2026.

Bacaan Lainnya

Akad nikah dimulai pukul 09.30 WIB. Dengan satu tarikan napas, mempelai pria mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu Kantor Urusan Agama Trumon Tengah. “Sah,” kata penghulu, disambut takbir para saksi dan hadirin yang memenuhi masjid.

Asmadi BA, ayah mempelai wanita yang sehari-hari bertugas sebagai jurnalis di media siber Sergap.co.id, tampak menahan haru. Ia menyalami satu per satu tamu yang hadir, dari keluarga, tokoh masyarakat, hingga rekan seprofesi dari Aceh Selatan dan Subulussalam.

“Alhamdulillah berjalan lancar. Kami sengaja memilih masjid agar lebih berkah. Terima kasih untuk semua doa,” ujarnya singkat, seusai prosesi.

Kepada putri tercintanya, Asmadi menitipkan pesan. “Nak, hari ini ayah melepasmu untuk hidup baru. Jaga salatmu, jaga akhlakmu. Rumah tangga itu ibadah terpanjang. Sabar dan syukur jadi kuncinya.”

“Pernikahan bukan akhir, tapi awal tanggung jawab. Hormati suamimu, sayangi keluarganya seperti keluarga sendiri. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin dan hati yang lembut. Jangan bawa keluar rumah.”

“Ayah hanya bisa mendoakan. Semoga Allah jadikan kalian keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Ingat pesan ayah: di mana pun kalian, jangan tinggalkan kejujuran. Itu bekal paling mahal yang ayah ajarkan sejak kamu kecil.”

Keuchik Ladang Rimba menilai pernikahan tersebut menjadi teladan. “Sederhana, sesuai syariat, dan tidak berlebihan. Inti pernikahan adalah ibadah, dan itu tercermin hari ini,” katanya.

Turut hadir Kepala Perwakilan Wilayah Aceh Sergap.co.id M. Adhar beserta kru redaksi. Ia menyampaikan selamat atas berlangsungnya prosesi ijab kabul. “Sederhana tapi sarat makna. Ini contoh baik dari keluarga wartawan, bahwa resepsi tidak harus mewah untuk menjadi berkesan,” ujar Adhar.

Setelah akad, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin imam masjid. Warga dan tamu undangan kemudian mengikuti kenduri adat di halaman masjid. Tidak ada hiburan musik, hanya alunan zikir dan obrolan hangat antartamu.

Hingga pukul 13.00 WIB, rangkaian acara berlangsung tertib. Para tamu pulang dengan membawa kesan tentang sebuah pernikahan yang mengutamakan makna dibanding kemewahan.

Di tengah tren pesta pernikahan yang kerap mengedepankan kemewahan, akad nikah di Masjid Al Ihsan ini mengingatkan pada esensi dasar sebuah perkawinan: ibadah. Sebuah kesahajaan yang justru membuat peristiwa itu terasa lebih dalam dan diingat.

(Tim Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *