Warga Keluhkan Jalan Sentral Sultan Daulat-Rundeng, Pj Geuchik Ust. Agustari Husni Timbun Lubang Pakai Sertu

SERGAP.CO.ID

SUBULUSSALAM, || Warga mengeluhkan kondisi jalan alternatif Subulussalam-Banda Aceh yang melintasi Kecamatan Simpang Kiri, Kecamatan Rundeng, hingga Kecamatan Sultan Daulat. Tepatnya di Kampong Pulo Kedep, jalan tersebut dipenuhi lubang besar dan dalam.

Bacaan Lainnya

Merespons keluhan tersebut, Penjabat Geuchik Pulo Kedep Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd berinisiatif melakukan penimbunan menggunakan material sertu, Minggu 21/06/2026.

“Ini kita lakukan menanggapi keluhan warga dan menggunakan swadaya masyarakat dengan bergotong royong. Jalan ini setiap hari dilewati banyak penggunanya. Sepeda motor hingga mobil sering terbalik dan bahkan ada yang sampai rusak akibat genangan air ketika hujan,” kata Agustari Husni kepada media di lokasi penimbunan.

Berdasarkan keterangan warga di lokasi, jalur Sultan Daulat-Simpang Kiri yang melintasi Kecamatan Rundeng ini menjadi andalan saat jalan nasional Subulussalam-Banda Aceh lumpuh total.

“Setiap musim hujan, Kota Subulussalam kerap dilanda banjir sehingga jalur ini jadi satu-satunya akses. Akibatnya, volume kendaraan melonjak tajam,” kata Khairul Syah Mahasiswa STAIS Jannatul Firdaus Kota Subulussalam yang juga warga Pulo Kedep.

Ia mengatakan, kalau jalan Nasional terendam, semua lewat di isini. Truk, mobil pribadi, sepeda motor. “Jalan kampong ini tak kuat, langsung hancur,” ujarnya.

Khairul Syah mempertanyakan kewenangan perawatan jalan tersebut. “Kami sangat berharap kepada Pemerintah Kota Subulussalam atau Pemerintah Aceh agar dapat sesegera mungkin untuk melakukan perbaikan jalan ini.

“Jalan ini saat musim banjir kerap dilalui truk bermuatan tonase di atas kapasitas jala, truk bermuatan melebihi tonase tentu kami hanya melihat dan harus memberi izin untuk dilewati karena ini satu-satunya jalan alternatif,” tambahnya.

Pantauan di lokasi, lubang menganga dengan kedalaman 20-30 sentimeter tersebar di beberapa titik. Saat hujan, lubang tertutup air dan menjebak pengendara.

Agustari Husni menyebut penimbunan ini bersifat swadaya. Material sertu didapat dari hasil permohonan ke perusahaan yang beroperasi di sekitar desa.

“Ini bantuan dari perusahaan perkebunan pak Aiyub, meski perkebunan PT ada yang lebih besar di sekitar Kampong, namun tidak ada perhatian mereka dalam bentuk TJSL atau CSR. Sambil menunggu perhatian dari dinas terkait dari kota maupun provinsi,” ucapnya.

Warga berharap ada perbaikan permanen. Sebab jalur ini vital sebagai penghubung antar kecamatan sekaligus alternatif ke Banda Aceh saat jalan utama terputus.

(H@r)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *