SUMBA TENGAH NTT,||Ditemui media dikantor Satu Visi Aman.Jumaat 29 Mei 2026,Ketua Pelaksana Harian Aman wilayah Sumba,Debora Rambu Kasuatu menyampaikan tanggapan soal polemik Film Pesta Babi yang beredar di media sosial,ia menghimbau publik untuk tidak menjadi perbedaan pandangan sebagai pemicu konflik.
Hidup di NKRI ini rumah kita bersama,ada Marapu,ada Islam,ada Kristen,katolik,ada Hindu,ada Budha dan ada konghocu.Selama ini toleransi berjalan dengan baik,jangan karena ada satu film lalu kita ribut,lalu kita retak,”ujar Debora Rambu Kasuatu.
Menurut Debora Rambu Kasuatu,adegan yang menampilkan ritual adat memang bagian dari adat budaya,Tapi ia memahami jika ada pihak yang merasa terusik karena perbedaan tafsiran.Ritual adat bukan ajakan untuk semua orang ikut,begitu juga ajaran agama punya koridornya,kita saling hormat saja
Contoh nya masyarakat NTT khususnya Sumba,pada saat perayaan hari raya keagamaan saling menghargai,hidup rukun dan toleransi sudah berjalan dengan baik.Sebagai masyarakat NTT khusus Sumba,kami memahami adat dan prosesi adat yang melibatkan hewan babi itu sakral,Tetapi konteksnya harus jelas.
Jangan sampai adegan film dimainkan berbeda oleh publik.Ritual yang melibatkan babi bagian dari upacara adat,bukan untuk konsumsi umum.Jika film mengambil adegan itu tanpa penjelasan,publik bisa salah paham.Kita harus lebih hati hati menampilkan simbol keagamaan,kebebasan berekspresi boleh,tetapi jangan menyinggung keyakinan,penting nya literasi budaya.
Perjuangan di papua itu,mungkin mereka edukasikan melalui Film tentang prosesi adat dan budaya mereka.Yang penting kerukunan antar umat beragama selama ini sudah berjalan dengan baik,Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya pulau Sumba,toleransi antar umat beragama sudah menjadi kehidupan yang harmonis dan sudah berjalan dengan baik selama ini.
(Ms)






