KAB. MAJALENGKA, || KPM (Keluarga Penerima Manfaat) di Desa Sinargalih, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka mengeluhkan pencairan bantuan BLT Bako untuk petani tembakau yang dinilai tidak sesuai harapan. Bantuan yang seharusnya diterima sebesar Rp300 ribu per KPM disebut-sebut harus dipotong untuk berbagai alasan yang memicu keresahan, Senin (7/12/2025).
Keluhan muncul setelah proses pencairan yang dilaksanakan di Aula Kantor Kecamatan Bantarujeg sejak Sabtu (6/12/2025). Meski berjalan kondusif pada awal pembagian, sehari setelahnya para KPM menyampaikan keberatan terkait potongan biaya pemberkasan yang dianggap memberatkan.
Beberapa KPM mengaku dipungut biaya pemberkasan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu sebelum pencairan. Tidak hanya itu, usai pencairan masih ada pungutan berupa uang terima kasih yang diminta dengan nominal beragam, mulai dari Rp30 ribu, Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
“Sebelumnya kami diminta biaya pemberkasan Rp50 ribu, ada juga yang Rp100 ribu. Setelah cair pun masih diminta uang terima kasih, bahkan ada yang diminta Rp100 ribu,” keluh salah satu KPM.
Akibat pungutan tersebut, sebagian KPM menyebut hampir separuh dari dana BLT sebesar Rp300 ribu justru habis untuk biaya yang tidak jelas peruntukannya. Mereka merasa dirugikan karena telah mengorbankan waktu pekerjaan seharian penuh untuk proses pencairan.
Saat dikonfirmasi, Ketua Kelompok Petani Desa Sinargalih berinisial O mengakui adanya pungutan tersebut dengan alasan untuk biaya operasional pengajuan. “Itu hal yang lumrah untuk operasional. Saya sendiri tidak menerima bansos itu, padahal saya petani bako tulen,” ujarnya.
Namun pernyataan berbeda muncul dari bendahara APTI Desa Sinargalih yang membantah menerima uang dari KPM. Ia menegaskan tidak pernah melakukan koordinasi terkait pungutan kepada penerima bantuan.
APTI Bendahara Desa Sinargalih juga menepis dugaan adanya pemasukan uang ke pihaknya. Ia menyebut tuduhan tersebut tidak benar. “Tidak ada uang koperatif dari KPM, itu bohong,” tegasnya.
Di sisi lain, para KPM tetap menyampaikan kekecewaan karena proses pencairan yang melelahkan tidak sebanding dengan bantuan yang diterima. Mereka menyebut menghabiskan waktu antre dari pagi hingga malam, bahkan ada yang selesai menjelang waktu Isya.
Adapun mekanisme pencairan dilakukan secara berbeda, di mana sebagian penerima menggunakan kartu ATM BJB, sementara lainnya menerima secara tunai tanpa kartu.
(Dian)






