JAKARTA, || Insiden penyerangan terhadap wartawan di Sumba Barat, NTT jadi atensi serius aktivis HAM dan pegiat antikorupsi di Jakarta.
Seruan tajam datang dari lembaga lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia serta Koalisi Masyarakat Pemberantasan Korupsi (KOMPAK) Indonesia.
Pernyataan tegas disampaikan Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia, Gabriel Goa, Minggu (26/04/2026).
“Kami sangat sesalkan kekerasan fisik dan psikis disertai ancaman teror lewat medsos terhadap wartawan saat melakukan tugas jurnalistik yang kembali terjadi di Tana Humba tepatnya Sumba Barat Daya,” ujar Gabriel.
Ketua KOMPAK Indonesia ini menyayangkan pers sebagai pilar utama demokrasi dan hak asasi manusia menjadi korban tindak pidana umum, tindak pidana ihusus ITE, dan pelanggaran HAM.
“Pers merupakan wakil rakyat voice of the voiceless yang telah dirampok hak-hak Ekosob mereka melalui praktik kejahatan KKN oleh kaum ouasa dan kuat modal,” tandasnya.
Terpanggil nurani kemanusiaan untuk bela rasa dengan korban yakni pers pejuang demokrasi dan HAM maka PADMA Indonesia dan KOMPAK Indonesia menyatakan :
Pertama, mendukung total Kasat Reskrim Polres Sumba Barat Daya untuk memproses hukum pelaku dan aktor intelektual kekerasan fisik dan psikis, ancaman teror di medsos dan diskriminasi HAM terhadap korban dan pers sebagai pejuang remokrasi dan HAM.
Kedua, mendukung total langkah Bupati SBD melalui Inspektorat melakukan pemeriksaan terhadap Dinas Kesehatan SBD dan RSUD yang menjadi sorotan pers dan publik di Sumba Barat Daya.
“Ketiga, kolaborasi dengan KPK RI untuk segera lakukan penyelidikan atas dugaan kuat korupsi di Sumba Barat Daya,” tegas Gabriel.
(Ms)






