BANDUNG, || Perwira udara Republik Indonesia, Husein Sastranegara, gugur saat menjalankan misi penerbangan dalam upaya mempertahankan kedaulatan udara Indonesia pada masa awal kemerdekaan, 26 September 1946. Ia wafat dalam usia 27 tahun saat Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) masih berada pada fase awal pembentukan.
Peristiwa gugurnya Husein terjadi di tengah situasi genting pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, ketika pasukan Sekutu dan Belanda berupaya merebut kembali kendali wilayah strategis, termasuk Pangkalan Udara Andir di Bandung yang kini dikenal sebagai Bandara Husein Sastranegara.
Husein Sastranegara merupakan salah satu perintis kekuatan udara Republik di Jawa Barat dan aktif dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) Udara. Ia berperan penting dalam memfungsikan kembali pesawat-pesawat peninggalan Jepang yang kondisinya sangat terbatas.
Dalam situasi kekurangan armada dan suku cadang, Husein bersama rekan-rekannya tetap melaksanakan misi penerbangan, baik untuk latihan, pengintaian, maupun koordinasi antar-pangkalan udara Republik.
Pada 26 September 1946, Husein menjalankan misi penerbangan yang sekaligus berfungsi sebagai pengintaian dan koordinasi strategis di tengah tekanan militer yang meningkat di wilayah Jawa.
Dalam penerbangan tersebut, pesawat yang dikemudikannya mengalami gangguan teknis serius. Kondisi cuaca buruk dan keterbatasan teknis pesawat memperparah situasi di udara.
Berdasarkan catatan sejarah TNI Angkatan Udara, Husein tetap bertahan di kokpit hingga detik terakhir sebagai upaya menyelamatkan pesawat yang merupakan aset negara yang sangat langka pada masa itu.
Pesawat tersebut akhirnya jatuh dan mengakibatkan gugurnya Husein Sastranegara. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi AURI yang saat itu masih berusia sangat muda dan tengah berjuang membangun kekuatan pertahanan udara nasional.
Meski gugur, perjuangan Husein menjadi inspirasi bagi generasi penerbang selanjutnya, termasuk tokoh-tokoh AURI seperti Agustinus Adisucipto dan Halim Perdanakusuma, yang melanjutkan perjuangan mempertahankan langit Indonesia.
Nama Husein Sastranegara kemudian diabadikan sebagai nama pangkalan udara dan bandara di Bandung, sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya dalam meletakkan fondasi kedaulatan udara Republik Indonesia.
(Sejarah TNI Angkatan Udara Jilid I (1945–1950), Dispenau**)






