LEMBATA, || Keterbatasan anggaran tidak menjadi penghambat bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata untuk terus menjalankan kerja-kerja literasi media dan literasi digital di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Ansel Bahi, M.Si, menegaskan bahwa literasi merupakan tanggung jawab bersama dan bagian dari kerja kebudayaan yang harus terus dihidupkan, terlepas dari besar kecilnya dukungan anggaran.
“Kekurangan anggaran bukan alasan untuk berhenti bekerja. Literasi tidak selalu identik dengan program mahal, tetapi dengan kemauan, kreativitas, dan kolaborasi. Perpustakaan dan arsip harus hadir sebagai ruang belajar publik yang hidup dan bermanfaat bagi masyarakat. ” Ujar Ansel Bahi.
Ia menjelaskan, perpustakaan daerah kini berperan sebagai corong utama kampanye literasi media dan literasi digital, terutama dalam membekali masyarakat agar mampu menyaring informasi, melawan hoaks, serta menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Selain itu, fungsi kearsipan juga dinilai strategis sebagai penyedia data dan informasi autentik yang dapat menjadi rujukan kebenaran di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurut Ansel, upaya literasi tersebut terus dilakukan melalui berbagai cara sederhana namun berdampak, seperti pemanfaatan ruang perpustakaan sebagai pusat edukasi publik, kerja sama dengan sekolah dan komunitas literasi, serta penggunaan media digital dan media sosial sebagai sarana edukasi yang murah dan menjangkau luas.
“Di era digital, perpustakaan harus menjadi rujukan informasi yang benar dan mendidik. Literasi media dan literasi digital adalah fondasi membangun sumber daya manusia Lembata yang cerdas, kritis, dan berkarakter,” tegasnya.
Ia menambahkan, dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, keterbatasan anggaran justru menjadi pemicu lahirnya inovasi dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan di Kabupaten Lembata.
(Desy)






