SERGAP.CO.ID
KOTA BANDUNG, || Kondisi memprihatinkan dialami oleh Ojan, bocah berusia 8 tahun warga Kelurahan Babakan Ciparay, Kota Bandung. Ojan harus tertinggal kelas selama satu tahun karena tidak masuk sekolah demi membantu orang tuanya mencari nafkah dengan berjualan gorengan keliling. Padahal, ia seharusnya sudah duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. (Senin, 13/11)
Saat anak-anak seusianya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain, Ojan justru harus berkeliling kampung menawarkan gorengan. Setiap hari sepulang sekolah, ia berjalan kaki menjajakan dagangannya hingga ke wilayah Jalan Situgunting Barat dan Komplek Citarif Barat.
Dengan mengenakan sendal jepit lusuh dan memikul keranjang gorengan di tangannya, Ojan terus berteriak menawarkan jualannya, mulai dari bala-bala, kroket, bakwan, pisang goreng hingga tempe mendoan seharga Rp2.000 per buah.
Ojan tinggal bersama orangtuanya dan seorang adik berusia 5 tahun di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kecamatan Babakan Ciparay RT 02 RW 09. Ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan, sedangkan sang ibu, Romlah (47), membuat gorengan yang kemudian dijual oleh Ojan.
Selain membantu ibunya berdagang gorengan, pada hari Minggu Ojan juga kerap membantu ayahnya di Pasar Burung Sukahaji menerbangkan burung merpati milik pelanggan. Dari pekerjaan itu, ia biasanya mendapat upah sebesar Rp10.000.
Meski kecil, Ojan bangga dengan jerih payah yang dikumpulkannya. Ia menabung uang recehan dari hasil jualan maupun upah membantu ayahnya, untuk membeli mainan yang sebenarnya layak dipenuhi oleh orang tuanya.
Kondisi ekonomi keluarga membuat Ojan harus memikul tanggung jawab besar yang tidak seharusnya ditanggung anak seusianya. Kesulitan hidup membuat kesempatan Ojan untuk menikmati masa bermain dan bersekolah terenggut.
Kisah Ojan menjadi potret nyata masih banyaknya anak di Indonesia yang harus bekerja demi bertahan hidup, padahal mereka seharusnya mendapatkan hak pendidikan dan perlindungan yang layak.
(Imas)






